BERBICARA DALAM LIDAH YANG TIDAK DIKENAL

(SPEAKING IN UNKNOWN TONGUES)

 

10-07-66

 

I Korintus 14:1-40

 

            Hari ini, khotbah kita adalah tentang karunia berbahasa lidah. Saya duga, saya telah bertahun-tahun mempersiapkan khotbah ini. Akan tetapi, ketika saya menyelesaikannya, dan melihatnya, seseorang akan menduga bahwa hal itu dalam dilakukan di dalam lima menit.

            Tetapi tidak pernah ada sesuatu yang membuat saya bergumul di dalam roh saya dan pembelajaran saya dan di dalam penilaian saya selama tiga puluh delapan tahun saya menjadi seorang pendeta dibandingkan dengan subyek bahasa lidah ini. Ini adalah sebuah nama yang bunyinya menggelikan, glossolalia, berbicara dalam bahasa lidah.

            Selama dua ribu tahun, hal itu tidak pernah dikenal dan tidak pernah diketahui. Dan kemudian di pertengahan abad sembilan belas, ada seorang Inggris yang bernama Irving, seseorang yang bertubuh jangkung dengan tinggi sekitar enam kaki lima inci, dengan rambut yang tidak dipotong hingga melewati bahunya, seorang Presbiterian, dan berhubungan dengan orang yang dikenal oleh dunia, Dr. Chalmers. Dan dia memimpin sebuah gerakan, gerakan berbicara dalam bahasa lidah. Dan hal itu muncul pada abad ini dan pada masa kita. 

            Beberapa dari gereja-gereja Baptis yang terbaik secara tragis terbagi dan terjepit. Dan beberapa gereja di kota ini, bergumul dengan hal yang terjadi sekarang ini.

            Jadi ketika kita mengalamatkan diri kita kepada subyek ini, kita sedang melihat salah satu fenomena yang berkembang di dalam KeKristenan pada saat ini.

            Lalu, bagaimanakah saya akan melakukannya? Kedua khotbah ini seharusnya bersama-sama. Yang pertama akan kita bahasa pada hari Minggu ini dan yang satu lagi akan kita bahas pada hari Minggu berikutnya. Jadi, saya hanya berdoa, saya hanya berharap agar anda dapat mendengarkannya juga pada hari Minggu berikutnya. Jika anda tidak bisa, maka khotbah ini akan dicetak dalam sebuah buku. Buku itu akan terbit pada akhir tahun. Buku itu akan berjudul “Roh Kudus Dalam Dunia Hari Ini.”

            Sekarang, dalam menyampaikan pesan ini. Apakah anda mengingat sebuah program televisi yang disebut “Dragnet?”  Dan di sana ada seorang pria yang bernama Webb, yang merupakan detektif dan seri yang panjang itu. 

            Dan di dalam setiap kisah itu selalu ada perkembangan sebuah  pemandangan di mana detektif itu akan selalu berkata kepada seseorang—yang selalu banyak mulut—bahwa dia selalu bertanya, maukah anda mengutipnya, “Hanya fakta saja tuan, hanya berikan saja faktanya kepada saya.”

            Apakah anda mengingatnya? “Hanya faktanya tuan, hanya berikan saja faktanya kepada saya.” Khotbah ini akan seperti itu. Hanya faktanya saja, Pendeta, berikan saja saya faktanya. Apa yang disampaikan Allah? Apa yang disampaikan oleh Alkitab? Apa yang digambarkan dalam Kitab Suci? Dan kemudian, hari Minggu berikitnya, kita akan berbicara tentang penafsiran. 

            Sekarang, fakta-fakta. Apakah fakta-fakta dari glossolalia?  Ketika saya berpaling ke dalam Kitab Kisah Rasul pasal 2: Ketika hari Pentakosta tiba, muncullah kepada mereka tiga karunia: Suara seperti sebuah tiupan angin yang keras—mujizat yang pertama.    

            Dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing – mujizat yang kedua.

            Di atas Embree Hall, ada sebuah lukisan yang sangat bagus sekali yang diperbesar dan terletak di salah satu struktur yang sangat indah di kota Dallas dibalik Knox Park, di area Pemakaman Hillcrest di  Forest Lawn di Los Angeles. 

            Mujizat yang luar biasa dari Pentakosta disajikan dalam proyek yang cemerlang itu. Sekarang mujizat yang ketiga adalah: Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata  dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan Roh Kudus kepada mereka untuk mengatakannya. 

            Lalu, ada yang tinggal berdiam di Yerusalem, orang Yahudi, orang Helenis dari seluruh dunia. Dan mereka mendengar setiap orang dalam bahasa mereka sendiri yang berbicara tentang pekerjaan-pekerjaan Allah yang luar biasa.

            Mereka tercengang-cengang dan heran sambil berkata: Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Babel, Yunani, Roma, Latin.

            Itu adalah sebuah fenomena mujizat. Tiga dari antaranya. Suara seperti sebuah tiupan angin yang keras.  Lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada kepala masing-masing rasul. Dan pemberitaan Injil Anak Allah dalam bahasa-bahasa. Dan seluruh orang-orang yang mewakili bahasa-bahasa itu dapat mendengarnya dan memahaminya dan mereka heran akan hal itu.

            Sekarang, saya berpaling ke dalam Kitab Kisah Rasul pasal sepuluh. Di rumah Kornelius di Kaisarea, ketika Petrus selesai dengan khotbahnya di pasal sepuluh ayat 44. Ketika Petrus selesai mengucapkan perkataan itu, Roh Kudus turun atas mereka semua yang mendengar perkataan itu. 

            Dan orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Simon Petrus terkejut atas bangsa-bangsa lain yang juga mengalami pencurahan dari karunia Roh Kudus. Sebab mereka berbicara dalam bahasa lidah dan memuliakan Allah.

            Lalu, yang ketiga di dalam Kitab Kisah Rasul. Di dalam pasal 19, Paulus bertemu dengan murid-murid yang lain. Dan dia berkata kepada mereka: Apakah kamu telah menerima Roh Kudus?? 

Dan King James menerjemahkannya: Sejak kamu percaya. Ketika kamu percaya. 

            Apakah kamu menerima Roh Kudus ketika kamu diselamatkan? Ketika kamu percaya? 

            Mereka berkata kepadanya: Kami belum begitu mendengar banyak, apakah Roh Kudus itu. Dan dia berkata: Lalu, murid-murid siapakah kamu? Dan mereka berkata: Yohanes Pembaptis. 

            Gerakan Baptis tidak mati ketika Yohanes Pembaptis dipenggal. Dan saya akan berkhotbah pada malam ini tentang martirnya Yohanes Pembaptis. Tetapi gerakan Baptis berlanjut disepanjang gerakan Kristen.

            Dan murid-murid Yohanes memiliki pengikut-pengikut dan ada pengikut Yohanes Pembaptis pada hari ini.

            Dan orang-orang ini adalah pengikut dari murid-murid Yohanes Pembaptis. Lalu, Yohanes Pembaptis berkhotbah tentang Roh Kudus. Orang-orang ini belum pernah mendengar tentang Roh Kudus. 

            Lalu, Paulus mengkhotbahkan injil kepada mereka dan mereka diselamatkan serta dibaptis. Dan ketika Paulus menumpangkan tangan kepada mereka, Roh Kudus turun atas mereka dan mereka berbicara dalam bahasa lidah dan bernubuat. Memuliakan Allah.

            Lalu, itu semua terdapat dalam Kitab Kisah Rasul. Dan saya telah membaca semuanya untuk anda. Ada satu tempat lainnya di dalam Perjanjian Baru. Dan hal itu terdapat dalam 1 Korintus pasal 12, pasal 13 dan pasal 14.

            Dalam 1 Korintus pasala 12, di dalam daftar sembilan karunia Roh, dua yang terakhir adalah: Kepada yang lain karunia berbahasa lidah dan bagi yang lain adalah karunia menafsirkan bahasa lidah.

            Kemudian pasal 14 adalah sebuah diskusi tentang karunia berbicara bahasa lidah ini. Pada hari Pentakosta, itu adalah sebuah bahasa yang dapat dipahami. Tetapi di dalam jemaat Korintus, itu adalah sebuah bahasa yang tidak dapat dimengerti. Itu adalah sebuah bahasa lidah yang tidak diketahui.

            Di dalam ayat 2, Paulus berkata: Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya.  Itu adalah sebuah bahasa lidah yang tidak diketahui. 

            Dan di dalam ayat 14: Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. 

            Glossolalia, banyak hal yang terdapat dalam Alkitab, sebuah bahasa lidah yang tidak diketahui. Saya sangat heran di dalam banyak hal yang terdapat dalam Alkitab, di dalam Firman Allah. Saya sangat heran atas hal ini. Saya sangat takjub atas hal ini. Saya sangat  diliputi oleh hal ini.

            “Tetapi fakta-fakta tuan, hanya beritahukan saja kepada kami fakta-fakta.’ Ini adalah fakta-faktanya. Yang pertama, orang-orang kudus Perjanjian Lama, memiliki semua karunia-karunia Roh. Mereka semua terlihat sebagai manusia-manusia Allah yang dipenuhi Roh, orang-orang dari Perjanjian Lama. Tetapi tidak hal ini.

            Fenomena ini tidak terlihat di dalam Perjanjian Lama, atau sebuah pendekatan terhadap hal itu. Yang kedua, fenomena berbicara dalam bahasa lidah yang tidak dikenal ini tidak terlihat di dalam kehidupan Tuhan kita. Dan secara jujur, saya tidak dapat membayangkan Yesus, Anak Allah berbicara dalam bahasa-bahasa lidah yang tidak dikenal. 

            Atau pun tidak ada di dalam kehidupan kita, tentang sebuah pendekatan terhadap hal itu. Di dalam Injil_Injil, hal itu tidak pernah disebutkan, tidak pernah dirujuk. Injil yang paling rohani, yaitu Injil Yohanes, tidak pernah menyebutkan hal itu. Hal itu tidak pernah terlihat di dalam kehidupan pelayanan Tuhan kita.

            Di dalam daftar karunia-karunia, di dalam Roma, di dalam Efesus, hal itu tidak pernah dirujuk. Juga tidak ditemukan di dalam jemaat-jemaat, kecuali di dalam jemaat Korintus ini, yang disebut Paulus sebagai jemaat duniawi. Dan orang-orangnya adalah bayi-bayi dalam Kristus.

            Hal itu tidak ditemukan di dalam jemaat-jemaat Makedonia. Di dalam jemaat-jemaat Akhaya. Di dalam jemaat-jemaat Yudea. Di dalam jemaat-jemaat Samaria. Di dalam jemaat-jemaat Roma. Satu-satunya pernah terlihat hanya di dalam jemaat yang duniawi ini, yaitu di Korintus.

            Hal itu tidak pernah dirujuk dalam surat-surat Paulus, kecuali di dalam surat Korintus ini. Hal itu tidak pernah dirujuk dalam surat-surat pastoral, ketika Paulus menulis kepada anaknya yang masih muda dalam pelayanan tentang bagaimana mengatur sebuah rumah Allah, bagaimana melakukan pekerjaan Tuhan, akan tetapi hal itu tidak pernah dirujuk. 

            Hal itu tidak pernah dirujuk dalam Kitab Ibrani. Hal itu tidak pernah dirujuk dalam surat-surat umum yang ditulis oleh Petrus, Yakobus dan Yohanes. Dan hal itu tidak pernah dirujuk dalam Wahyu. Itu adalah sebuah fenomena yang anda temukan hanya di dalam jemaat Korintus ini. Berbicara dalam bahasa lidah yang tidak diketahui ini.

            Jadi saya mengambil kitab suci ini. Dan saya membaca apa yang disampaikan Paulus dalam 1 Korintus pasal 14 ini tentang glossolalia, berbicara dalam bahasa lidah yang tidak dikenal. Dan ketika saya membaca pasal itu, saya dapat melihat secara jelas, dan sangat terang, saya dapat melihat bahwa Paulus sedang bergumul dengan sebuah masalah yang terdapat dalam jemaat Korintus. 

            Itu selalu merupakan sebuah masalah. Hal itu bukanlah sesuatu yang lain dalam sejarah kecuali sebuah masalah. Dan Paulus sedang bergumul dengan hal itu di dalam jemaat Korintus ini. Tampak jelas, dan bermanifestasi. 

            Dia berkata, ketika kamu datang bersama-sama sebagai sebuah jemaat, dan kamu berbicara dalam bahasa lidah. Dan datanglah seorang yang tidak percaya, tidakkah dia akan berkata: Kamu adalah—dan di sini diterjemahkan dengan kata gila? Kata Yunani adalah mainomai yang dalam sebuah kata Yunani kata itu adalah untuk sakit pikiran.    

            Ketika saya berpaling ke dalam ayat terakhir dari pasal itu, dia berkata: Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.

            Dia sedang memiliki masalah dengan hal itu. Itu adalah sebuah masalah di dalam jemaat Korintus. Apakah anda melihat perbedaannya? Seandainya jemaat Korintus memberikan diri mereka kepada hal-hal yang hebat, Paulus akan memerintahkan mereka dan mendorong mereka. Seandainya jemaat itu memberikan diri mereka kepada sebuah komitmen yang penuh pengorbanan kepada Allah, dia akan menulis kata-kata dorongan dan pujian.

            Seandainya mereka memberikan diri mereka kepada doa dan permohonan, kepada kesaksian, dan kepada buah-buah Roh, Paulus akan menuliskan kata-kata pujian kepada mereka.

            Tetapi dia sedang bergumul dengan masalah ini. Ini adalah sebuah masalah di dalam jemaat Korintus. Dan pasal yang ditulis oleh Paulus ini berkenaan dengan masalah glosolalia, berbicara dalam bahasa lidah. Pasal ini bukanlah sebuah seri tentang aturan-aturan untuk berbicara dalam bahasa lidah, tetapi itu adalah sebuah seri perintah untuk membatasi hal itu. 

            Di dalam setiap cara yang mungkin, Paulus sedang berusaha untuk mengontrol, untuk tidak melakukan, untuk membatasi. “Hanya berikan saja saya faktanya tuan, berikan saya fakta-fakta.”

            Kita akan melihat masing-masing dari mereka. Bahkan di dalam kata-kata di mana Paulus berbicara tentang berbicara dalam bahasa lidah, di dalam semangat yang memberi izin dan semangat pemahaman, dia akan selalu menempatkan sebuah kata “tetapi” bersama dengan itu. 

            Saya akan membaca semuanya. Saya akan membaca setiap kali dia berbicara tentang kemungkinan pintu yang terbuka untuk glossolalia. Tetapi setiap kali dia berbicara tentang hal yang memberi izin, dia akan berkata tetapi dan kemudian berusaha untuk membatasi penggunaannya dan prakteknya serta pertunjukannya. 

            Lihatlah hal itu. 1 Korintus 14 ayat 4: Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat. 

            Ketika seseorang berbicara di dalam sebuah bahasa lidah yang tidak dikenal, dia mungkin membangun egotisme rohaninya sendiri. Dan perasaannya sendiri terangkat dan sangat gembira. Tetapi Paulus berkata, untuk jemaat, kita membutuhkan sebuah bahasa yang jelas dan dapat dimengerti.    

            Baiklah, berpaling ke dalam bagian yang selanjutnya dan lihat ke dalam kata “tetapi” itu kembali. Ayat 5. Saya lupa, anda tidak memiliki Alkitab seperti yang saya miliki. Ayat 5: Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh.  Tetapi – dan selalu ada di sana. Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. 

            Baiklah, sekali lagi. Ayat 18:  Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua.  Tetapi—selalu seperti itu.  Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh. 

            Lalu, ada satu tempat lainnya. Kita akan membaca semuanya. Ayat 39.  Karena itu, saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh. 

            Saya hanya sedang mengulang, apa yang ditulis dalam pasal itu, Paulus sedang bergumul dengan sebuah masalah. Itu adalah sebuah masalah yang perpecahan bahkan di dalam jemaat Korintus yang bersifat duniawi ini. 

            Baiklah, setelah melihat nada dan perasaan di dalam hati sang rasul ketika dia menulis hal itu, sekarang mari kita melihat apa yang dia sampaikan. Hanya fakta-fakta tuan, apakah fakta-faktanya? 

            Apakah anda pernah melihat suatu rintangan yang tidak seimbang ketika Paulus menulis di dalam jemaat, Aku lebih suka berbicara lima kata dengan pemahamanku. Lima kata dengan pemahamanku. Sehingga oleh perkataanku aku juga dapat mengajar orang lain. Lebih baik dari sepuluh ribu kata di dalam bahasa lidah yang tidak dapat diketahui. 

            Lima hingga sepuluh ribu. Pernahkah anda melihat sebuah rintangan seperti itu? Dan kemudian ada orang yang merasa lebih baik untuk memberikan diri mereka sendiri kepada situasi-situasi yang digambarkan oleh Paulus. Lima hingga sepuluh ribu dan saya tidak dapat memahaminya. Saya tidak dapat memahaminya.  

            Dia melakukan segala sesuatu yang mungkin untuk jangan melakukan hal itu, untuk membatasinya. Mari kita berbicara lima kata yang cerdas, yang dapat dipahami dari pada sepuluh ribu kata dalam sebuah bahasa yang tidak dapat dimengerti. 

            Baiklah. Yang kedua, hanya berikan kepada kami fakta-fakta tuan, hanya fakta-fakta. Yang kedua hendaklah perempuan berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan jemaat. Tidak diizinkan bagi mereka untuk berbicara. Dan jika mereka akan belajar sesuatu biarlah mereka bertanya kepada suami mereka di rumah. Sebab merupakan sebuah kehinaan bagi wanita untuk berbicara dalam jemaat.

            Lalu, saya berpaling ke dalam bagian yang ada di Alkitab saya. Saya berpaling ke dalam bagian Alkitab di dalam 1 Korintus pasal sebelas, Paulus telah menjelaskan bagaimana seorang perempuan harus berpakaian ketika dia berdoa di hadapan umum dan ketika dia bernubuat di depan umum.

            Lalu, Paulus ini pastilah seorang yang bodoh jika dia tidak mengingat satu bagian  yang telah dia tulis bagaimana seorang wanita harus berpakaian, ketika dia berdoa di hadapan umum dan ketika dia bernubuat, ketika dia berbicara di hadapan umum. Dan kemudian ke dalam bagian selanjutnya, serta kemudian dia menulis. 

            Hendaklah perempuan berdiam diri di dalam pertemuan-pertemuan jemaat, tidak diizinkan bagi mereka untuk berbicara. Sebab merupakan sebuah kehinaan bagi seorang perempuan untuk berbicara di dalam jemaat. Lalu, alasan dan jawabannya sangat jelas.

            Dia telah berbicara tentang wanita ini di tengah-tengah pasal tentang glossolalia ini. Dan dia sedang berbicara tentang seorang perempuan di dalam sebuah bahasa lidah yang tidak dimengerti. Dia sedang berbicara tentang berbicara dalam bahasa lidah. 

            Lalu, mengapa Paulus keberatan terhadap seorang perempuan berbicara dalam sebuah bahasa lidah? Ketika anda mempelajari sejarah Yunani kuno, hal itu tampak nyata, hal itu sangat jelas. 

            Jika anda pernah mengunjungi situs kuno Korintus, laut yang berada di sana dan kota yang ada di sana. Dan kota itu dibangun di sana. Dan tepat di dalamnya terdapat Acrocorinthius yang sangat mengesankan, banguan yang pernah dapat anda bayangkan. Akropolis dari Korintus.  

            Jauh lebih hebat, lebih tinggi dan lebih luas dari pada Akropolis di Atena yang ditemukan oleh Parthenon. Akropolis Korintus. Dan di atas puncak Akropolis itu terdapat sebuah kuil Yunani untuk Aphrodite.  Nama Latinnya adalah Venus.

            Dan pada zaman kuno itu, mereka menyembah dewi Aphrodite, Venus dalam pesta seks yang gila-gilaan. Ketika seorang pria naik untuk menyembah Aphrodite, itu adalah cara pria untuk menyembah dia. Kekotoran dan kejorokan dari pemujaan agama itu tidak dapat diterjemahkan dalam bahasa yang sudah mereka pakai selama ribuan tahun. 

            Anda tidak dapat menerjemahkannya ke dalam bahasa modern. Dan setiap orang dari kuil-kuil itu memiliki seorang perempuan yang didedikasikan kepada dewi-dewi. Dan wanita-wanita itu dipakai dalam penyembahan yang gila-gilaan itu, mengerjakan diri mereka ke dalam hiruk pikuk. 

            Dan Paulus berkata: Jika itu yang terjadi, dan ketika tiba-tiba ada seorang yang tidak percaya dan dia berhenti dan dia melihat ke dalam dan di sana perempuan-perempuan kamu berbicara dalam bahasa lidah yang tidak dapat dimengerti, dia akan berkata, “Kita memiliki sebuah koloni yang kecil dari Aphrodite di sini. Mari kita masuk dan mengambil bagian dalam pesta yang gila-gilaan.” 

            Tidak, kata Paulus. Hal yang seperti itu tidak boleh terpikirkan. Hal itu tidak dapat disebut di dalam rumah Allah dan di dalam jemaat-jemaat Kristus. Hendaklah perempuan-perempuan kamu berdiam diri. Itu merupakan sebuah kehinaan. Sama seperti di atas sana di Aphrodite. Itu merupakan sebuah kehinaan bagi seorang perempuan untuk berbicara dalam sebuah bahasa lidah yang tidak dimengerti di dalam jemaat.

            Dan kamu mengambil perempuan-perempuanmu dari gerakan bahasa lidah yang tidak dapat dimengerti itu, dan itu akan mati semalam. Hiruk pikuk, kegembiraan, gossolalia yang tidak dapat dimengerti dipertahankan oleh perempuan-perempuan.

            Dan Paulus berkata: Hanya fakta-fakta, tuan, hanya fakta-fakta. Lalu apakah ini? Dan apakah tujuannya? Allah memiliki sebuah tujuan pada saat Pentakosta, anda melihatnya. Di Kaisarea, di rumah bangsa-bangsa lain, anda telah melihatnya. Dan di Efesus, anda telah melihatnya. Dan di sinilah dia, berbicara tentang itu.

            Hal-hal ini berada di dalam Alkitab. Baiklah, apa makna dari hal itu? Dari manakah hal itu berasal dan apakah tujuannya? Hanya fakta-fakta tuan, hanya beritahukan saja kepada kami fakta-fakta. 

            Paulus di bawah inspirasi Allah menafsirkan apa yang telah Allah lakukan dan apa maknanya. Anda dengarkanlah. Ayat 21, 22: Dalam hukum Taurat – hal itu terdapat dalam Perjanjian Lama -- Dalam hukum Taurat ada tertulis: "Oleh orang-orang yang mempunyai bahasa lain dan oleh mulut orang-orang asing Aku akan berbicara kepada bangsa ini, namun demikian mereka tidak akan mendengarkan Aku, firman Tuhan." 

            Di mana saja bahasa lidah adalah untuk sebuah tanda. Bukan kepada mereka yang percaya. Tetapi kepada mereka yang tidak percaya. Lalu apakah makna dari hal itu? Apa yang sedang Paulus sampaikan di sini? Di dalam glossolalia ini, di dalam bahasa lidah ini, apa yang dia maksudkan?  

            Hal itu sangat jelas. Hal itu tampak nyata. Dia mengutip dari sini, Yesaya 28:11 di dalam Perjanjian Lama, yang disebut hukum dari seluruh kitab. Di dalam Perjanjian Lama hal itu telah tertulis, kemudian dia mengutip Yesaya 28:11: Sungguh, oleh orang-orang yang berlogat ganjil dan oleh orang-orang yang berbahasa asing akan berbicara kepada bangsa ini  akan tetapi mereka tidak taat kepadaKu. Mereka tidak akan bertobat dan percaya kepadaKu.

            Lalu, konteks histories dari nubuatan Yesaya itu adalah hal ini: Tuhan berkata kepada nabinya Yesaya. Engkau sampaikanlah kepada orang-orang ini, Aku telah berbicara kepadamu dengan sangat jelas. Aku telah berbicara kepadamu dengan sebuah bahasa yang cerdas. Aku telah berbicara kepadamu di dalam sebuah bahasa yang dapat kamu mengerti, di dalam bahasa ibumu. 

            Tetapi engkau suka melawan dan keras kepala dan tidak dapat diperbaiki serta tidak taat. Lalu, firman Tuhan Allah, Aku akan berbicara kepadamu di dalam sebuah bahasa yang tidak dapat kamu mengerti. Bahasa-bahasa asing.

            Dan konteks historis adalah Allah membawa ke dalam bangsa Asyur dan mereka tidak dapat memahami Asyur. Dan Allah membawa ke dalam Babel dan mereka tidak dapat memahami orang Kasdim dan Tuhan berbicara kepada Israel sebagai sebuah tanda di dalam bahasa-bahasa lain, akan tetapi mereka tidak bertobat dan mereka tidak percaya.

            Kemudian Paulus mengambil nubuatan itu dari Yesaya dan dia mengaplikasikannya kepada apa yang Allah lakukan kepada bangsa Yahudi dan umat Yahudi. Karena itu dia berkata, bahasa lidah adalah sebuah tanda. Bukan kepada mereka yang percaya. Tetapi bagi mereka yang tidak percaya. Itu adalah sebuah tanda. 

            Saya dapat melihat hal itu dengan sangat jelas. Pentakosta, ada tiga tanda bagi bangsa Yahudi dan umat Yahudi. Bagi orang-orang Yahudi di Yerusalem. Pada permulaan dispensasi ini, semuanya ada tiga tanda yang berasal dari Allah sorgawi. Sebuah dispensasi yang baru. Sebuah era yang baru.

            Yang pertama, Suara seperti sebuah tiupan angin yang keras. Pneuma, nafas, sebuah tipe dari Roh Kudus. Yang kedua,  lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Api adalah sebuah tanda dari Roh Kudus. Yang ketiga, karunia berbahasa lidah.  

            Dan mereka menyampaikan firman Allah di dalam bahasa-bahasa seluruh manusia, orang-orang Yahudi yang telah berkumpul di sana untuk hari raya Pentakosta dari seluruh ujung bumi. 

            Itu adalah sebuah tanda bagi bangsa Yahudi. Saya dapat melihat hal itu. Dan hal yang sama terjadi di Kaisarea. Bahasa lidah merupakan sebuah tanda. 

            Seperti yang Paulus sampaikan: Itu adalah sebuah tanda karena di sana ada saudara-saudara Yahudi yang datang bersama dengan Simon Petrus ke dalam rumah bangsa-bangsa lain yaitu Kornelius dan ketika mereka kembali ke Yerusalem di dalam Kidah Rasul pasal 11, Petrus dan orang-orang Yahudi itu dipanggil oleh saudara-saudara lain.

            Engkau masuk ke dalam rumah seorang non Yahudi. Dan dilarang bagi seorang Yahudi untuk masuk ke dalam rumahnya, apalagi makan bersama dengan mereka. 

            Dan Simon Petrus membalas: Tetapi saudara-saudaraku, kami melihat tanda dari Allah. Itulah yang dia sampaikan. Hal ini telah terjadi pada hari Pentakosta. Tanda dari Allah bahwa ini adalah injil dari dispensasi yang baru. Tanda yang sama kami lihat di Kaisarea. Sebab kami melihat bangsa-bangsa non Yahudi itu berbicara dalam bahasa lidah, sama seperti yang kami lihat pada hari Pentakosta.  

            Saya memahami hal itu. Karunia berbahasa lidah adalah karunia tanda seperti yang Paulus sampaikan, yaitu untuk bangsa Yahudi. Bagi bangsa dalam memperkenalkan dispensasi yang baru. Tetapi bagi bangsa yang lain, sekarang saya akan melanjutkan. Ayat selanjutnya. 

            Tetapi bagi kita, jika seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa lidah, lalu masuklah orang-orang luar, dia akan berkata: Kamu tidak waras. Kamu gila. Kamu sakit jiwa.

            Tetapi jika seseorang bernubuat, jika dia berbicara dengan kata-kaata hikmat, dan datanglah seseorang yang tidak percaya, segala rahasia yang akan terkandung di dalam hatinya akan menjadi nyata, sehingga ia akan diyakinkan di dalam jiwanya dan suujud menyembah Allah dan mengaku, “Sungguh Allah ada di tengah-tengah kamu.” 

            Tanda itu adalah untuk bangsa Yahudi dan umat Yahudi seperti yang anda lihat di dalam Pentakosta, seperti yang anda lihat di Kaisarea. Tetapi ketika anda berpaling ke dunia bangsa-bangsa lain, untuk memberitakan injil Anak Allah, dapatkan anda membayangkan di dalam bayangan anda yang liar, dapatkan anda membayangkan sedang berdiri di atas Bukit Mars di hadapan sidang Aeropagus, Pengadilan Tertinggi dari bangsa Atena, dapatkah anda membayangkan Paulus berdiri di hadapan Aeropagus itu, berbicara dalam bahasa lidah dan Silas berdiri di sampingnya untuk menafsirkannya? 

            Mereka akan berkata, “Mereka sakit jiwa. Mereka gila.” 

            Hanya fakta-fakta, tuan, beritahukan kami fakta-fakta. Bahasa lidah adalah untuk sebuah tanda. Dan ketika tanda itu telah mencapai tujuannya, maka tanda itu berhenti. Kita tidak akan berkhotbah atas hal itu. Bahasa roh akan berhenti, kata Paulus.

            Dan untuk menciptakan ulang tanda-tanda itu merupakan sebuah penghinaan kepada Allah. Itu bukanlah iman. Itu adalah anggapan. Oh, jiwaku, Laut Merah yang terbelah di bawah tangan Musa. Dan kita berdiri di sana dan berkata: Tuhan Allah, lakukan lagi. Belahlah Laut Merah. Engkau telah melakukannya, lakukanlah lagi. Hanya untuk melihatnya. 

            Itu adalah sebuah tanda di bawah tangan Musa yang sedang melepaskan umat Allah di dalam sebuah dispensasi yang baru, yaitu dispensasi hukum. Lakukan kembali, hal itu telah mencapai tujuannya.  

            Dan Elia naik ke sorga dalam sebuah angina yang keras. Dan Elia melihat kereta berapi dan kuda berapi. Dan kita berdiri di sebelah nabi Yesaya, Yohanes Pembaptis, Petrus, Paulus, dan kita berkata: Lakukan kembali. Mari kita melihat engkau naik ke sorga di dalam sebuah kereta berapi. Lakukan kembali. 

            Betapa indahnya kisah tentang inkarnasi. Dan para malaikat datang dan mereka berkata-kata. Leroy berkata mereka bernyanyi. Allah berkata bahwa mereka berkata-kata. Hanya bergantung atas salah satu yang ingin anda ikuti. Dan mereka berkata-kata. Dan dengan kuasa yang mulia.

            Dan sekarang kita berdiri di bawah langit malam dan berkata, “Tuhan, lakukanlah lagi. Biarkan kami mendengar malaikat berkata-kata berdasarkan firman Allah dan bernyanyi berdasarkan Leroy di sini. Biar kami melihat jika Dia dapat melakukannya. lakukanlah lagi.”

            Atau bintang-bintang datang. Tuhan, lakukanlah kembali. Dan mereka berbicara dengan bahasa lidah. Tuhan, lakukan lagi. Lakukan kembali. Anda pada akhirnya mengganggu tujuan Tuhan. Dan Paulus berkata. Dan orang-orang yang tidak percaya datang dan mereka berkata kamu sakit jiwa, kamu telah kehilangan pikiranmu. 

            Bukankah itu sebuah pujian kepada rumah Allah dan kepada kerajaan Yesus? Lalu apa yang dia sampaikan kepada kita kemudian? Dan dia memiliki banyak hal untuk disampaikan kepada kita. Hal itu dimulai dari ayat 6. Dia mulai dari ayat 6: Jadi, saudara-saudara, jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa roh, apakah gunanya itu bagimu? 

            Jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa roh, apakah gunanya itu bagimu, jika aku tidak menyampaikan kepadamu penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran?

            Mengapa, dia berkata bahkan alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi yang berbunyi seperti seruling dan kecapi, bagaimanakah orang dapat mengetahui lagu apakah yang dimainkan kalau keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda? Hanya membuat sebuah timbunan dari organ itu dan seseorang berusaha memainkannya dan melihat apakah itu memainkan musik.    

            Setiap suara, setiap nada harus berbeda dan dapat dimengerti. Bagaimana jika nafiri memberikan sebuah bunyi tertentu? Siapakah yang mempersiapkan dirinya untuk berperang? Ketika saya berpaling ke dalam Yehezkiel pasal 33, Allah berfirman: Aku akan menempatkanmu di atas tembok sebagai seorang penjaga dan ketika engkau melihat pedang datang, tiuplah sangkakala.

            Jika engkau tidak meniup sangkakala dan orang-orang mati, darah mereka akan Aku tanggungkan atasmu. Sangkakala harus memiliki sebuah bunyi tertentu.

            Demikian juga kamu, yang berkata-kata dengan bahasa lidah; jika kamu tidak mempergunakan kata-kata yang jelas, bagaimanakah orang dapat mengerti apa yang kamu katakan? Kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara. Paulus sedang membuat seruan untuk apa yang pantas dan cerdas dan yang dapat dimengerti dan saling berurutan.

            Entah mengapa, saya hanya merasakan denyut dari seseorang ketika dia berbicara. Ketika anda datang ke dalam jemaat dan ketika orang-orang berkumpul bersama-sama, berbicara dalam sebuah bahasa yang cerdas. 

            Dan kemudian akhirnya saya harus menutup khotbah ini, ketika seluruh jemaat datang untuk bersama-sama, ayat 23 dan 25. Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila?   

            Tetapi kalau semua bernubuat, lalu masuk orang yang tidak beriman atau orang baru, ia akan diyakinkan oleh semua dan diselidiki oleh semua; segala rahasia yang terkandung di dalam hatinya akan menjadi nyata, sehingga ia akan sujud menyembah Allah dan mengaku: "Sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu."

            Itu adalah cara Paulus menyampaikannya. Itulah caranya. tanda bagi orang Yahudi dalam permulaan dispensasi yang baru. Hal itu telah mencapai tujuannya. Hal itu telah selesai. Hal itu telah berhenti. Tidak perlu untuk masa yang sekarang ini. 

            Tetapi sekarang, ketika anda datang bersama-sama ke dalam jemaat. Biarlah Allah memanggil orang yang terhilang untuk beriman. Dan komitmen dengan sebuah kata-kata yang jelas dan dapat dipahami. Dan semakin sederhana anda membuatnya, semakin efektif Allah akan menggunakannya dan memberkatinya.

            Sebab Allah tidak memanggil umatNya untuk beriman dengan tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban dan mujizat-mujizat dan oleh suara-suara dan oleh bahasa-bahasa lidah dan oleh bunyi-bunyi yang aneh.

 

Alih bahasa: Wisma Pandia, Th.M.