BUKAN “APA” AKAN TETAPI “KEPADA SIAPA”

(NOT “WHAT” BUT “WHOM”)

 

Dr. W. A. Criswell

 

2 Timotius 1:12

9-21-58

 

 

Saya memiliki sebuah nats yang indah, sungguh sebuah nats yang indah untuk malam hari ini. Kitab 2 Timotius 1:12, “Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.” Demikianlah nats yang sangat menyegarkan. Tidak, “Aku pikir,” “Aku duga,” “Aku kira, mungkin.”  “Aku tahu. Dan aku merasa yakin.”

 

Di abad Kristen pertama itu, kaum ilmuan, orang-orang yang berpandangan sesat itu berada di mana saja dengan mengatakan bahwa mereka mengetahui segalanya. Dan di manapun mereka berada, orang-orang yang agnostis berada tepat di belakang mereka mengakui bahwa mereka mengetahui segalanya. Dan semangat agonitisisme merupakan suatu bualan menutupi ketidak-tahuan serta ketidak-pastian dan keragu-raguan mereka.

 

Kita hidup di zaman yang seperti itu sekarang. Pendekatan-pendekatan secara ilmu pengetahuan itu telah menempatkan suatu bayaran kepada keragua-raguan serta ketidak-pastian. Ketidak-pastian merupakan sesuatu hal yang baik, dan dogmatisme merupakan hal yang paling kelam dari dosa. Kita tidak boleh mempercayai segalanya. Tidak menurut kepada zaman kritis dan sinis ini. Ada sebuah paham dogmatisme yang lahir dari ketidak tahuan serta kebodohan. Dan paham itu sama sekali tidak berhubungan dengan pengalaman serta keprihatinan.

 

Akan tetapi pengetahuan yang diakui oleh Paulus di sini, serta kepercayaan yang dibicarakannya di sini bukan lahir dari ketidak-tahuan, akan tetapi pengetahuan itu lahir dari sebuah pengalaman yang mendalam. In adalah orang yang terbiasa berada di dalam penjara bawah tanah. Dia telah menjadi sasaran dari tangan-tangan kejam dan kerusuhan. Ia telah disia-siakan di dalam hidup, dipenjarakan, ditertawakan oleh orang-orang yang berpandangan sesat, disangkal oleh orang-orang dari kaumnya, ditinggalkan – di katakan di sini, hanya Lukas yang bersama-sama dengan dia, hanya satu – ditinggalkan oleh saudara-saudranya sendiri.

 

Dan walaupun begitu, inilah orang yang berada di dalam penjara dan di hadapan kerumunan orang-orang liar, dan di hadapan mereka yang mentertawakan serta mencemooh, di hadapan saudara-saudara yang palsu, ini adalah orang yang bersaksi di hadapan seluruh dunia dengan keyakinan yang mendalam serta ketegasan terhadap tuntutan serta penguatan, dengan sebuah kalimat, “Aku tahu, dan aku merasa yakin.” 

 

Sekarang, kita mulai dengan apa yang sedang dibicarakannya – pokok kalimat dari kalimatnya. Dia sedang membicarakan tentang hari itu – hari itu. Itu merupakan hal yang aneh, hari itu. “Hari itu” bisa saja mengacu kepada segala hal. Hari itu. Ada apa yang begitu spesifik di sana mengenai hari itu? 

Jika saudara-saudara tidak tahu, hal itu karena kita tidak berbagi di dalam kerasulan kaum Kristen. Bagi umat Kristen yang pertama-tama, hanya ada satu hari itu. Hari itu untuk mana hari-hari yang lain diciptakan. Hari itu ke arah mana semua takdir serta kehidupan condong dan bergerak. Penunjukan itu adalah terhadap hari pada saat Kristus Yesus Tuhan kita akan campur tangan serta berada secara kasat mata dan langsung di dalam sejarah umat manusia. Tidak pernah dikatakan di sini, di dalam Alkitab ini, “kedatangan,” atau “penghakiman,” atau “kedatangan yang kedua.” Tidak pernah disebutkan seperti itu kepadanya.

 

Akan tetapi mereka membicarakan hal tersebut secara terus menerus serta tak putus-putusnya menunjuk kepada hal tersebut bahwa hal tersebut akan dikenal sebagai hari itu. Sering kali Paulus menggunakan ungkapan – hari itu. Hari itu merupakan hari Kristus yang agung ketika bangsa-Nya akan berdiri di hadapan-Nya. Hari itu merupakan Hari Tuhan yang agung, ketika yang jahat akah dihakimi dan kemarahan yang hebat akan dituangkan ke atas bumi. Hari itu.

 

Sekarang, dia berkata bahwa sesuatu telah dipercayakan oleh Yesus kepadanya pada hari itu. Maka apa yang dikatakannya ketika dia berbicara tentang kematiannya, “apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku." Di sana dia menunjukkan terhadap seluruh perhatian serta keprihatinan dari kehidupan ini, terhadap kehidupan yang akan datang nanti. Dari waktu dan dari takdir, “aku telah menempatkan – mempercayakan – menaruh seluruh persoalan hidup, seluruh persoalan waktu, dan seluruh persoalan takdir ke dalam tangan-Nya.” 

 

Yang dimaksudkan oleh Paulus adalah, “Aku telah mempercayakan keselamatan abadi jiwaku kepada-Nya.” Dia bermaksud, “Aku telah mempercayakan seluruh dosa dan kesalahan serta kegagalanku di masa yang lalu kepada-Nya.”  “Kepada-Nya telah diberikan Tuhan Allah atas seluruh kejahatan dari kita semua.” Paulus bermaksud, “Kepada-Nya telah aku serahkan seluruh hasil serta pergumulan hidupku, seluruh upah serta pengertiannya.” Mungkin sudah menjadi seorang rabbi yang terkenal. Mungkin telah dituliskan tulisan jauh sebelum Plato dan Aristoteles kemudian menuliskannya. Akan tetapi dia menderita, menjalani sebuah kehidupan yang dengan penderitaan serta sakit hati, meninggalkan persoalan serta upah kepada Tuhan Allah. “Yang telah dipercayakan-Nya kepadaku.” Dan dia telah menjanjikan kepada Kristus eksekusi yang akan datang nanti, hantu dari Nero telah bangkit di hadapannya. Suatu kematian serta pemutusan yang tertentu dengan segera ditekankan kepadanya. “Kepadaku telah dipercayakan-Nya Yang telah bangkit dari kematian serta kehidupanku akan menjadi sebuah siksaan serta maut. “Memberikan janji kepada-Nya setiap perkara serta setiap kepentingan di dalam hidup. Aku telah meletakkannya di dalam tangan-Nya terhadap hari itu.”

 

Sekarang, janji yang menyenangkan dari rasul tersebut ketika dia berbicara tentang Dia Yang berkuasa memberikan perlindungan, di mana di sini diterjemahkan sebagai, “memelihara kepercayaan tersebut.” “Karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa menjaga - memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.” 

Di masa yang lalu, mereka tidak memiliki sebuah bank. Dan ketika seseorang telah menimbun sejumlah emas dan dengan kikirnya menyimpannya, dia harus menyembunyikan emas-emas tersebut sejauh mungkin. Dan seseorang yang pelit, menghitung kantung-kantung emasnya, menyimpannya di dalam brankas, memalangi jendela-jendela itu, serta menggerendel pintu-pintunya. Ketika dia beranjak menuju ke peraduannya, dia mengira bahwa dia telah mendengar langkah-langkah, dan langkah-langkah kaki tersebut, serta mendekatnya kawanan pencuri. Kemudian dia turun ke ruang penjagaan, mencobai semua jendela, membuka pintu-pintu, untuk melihat dari mana kawanan pencuri itu telah mendekat. 

 

Dan memikirkan dia mungkin sudah datang dan sudah pergi, dia membuka brankasnya, menghitung kantung-kantung emasnya, meletakkan mereka kembali, mengunci pintunya, menguji palang-palang peghalang pintu tersebut, lalu kemudian kembali ke kamarnya, naik ke tempat tidurnya, kemudian mengira dia telah mendengar kawanan pencuri telah datang, bahkan setelah dia baru saja meninggalkannya. Dan dia hidup di dalam kesengsaraan.

 

Sungguh mencerminkan keadaan yang sama dengan kita. Setelah mempercayakan jiwa dan hidup serta takdir kita kepada Yesus kita ingin tahu dan kita diliputi rasa takut dan malu-malu serta our soul and our life and our destiny we wonder and we're fearful and timid and dijalari dengan perasaan ragu serta firasat-firasat: Bagaimana nanti matinya? Bagaimana nantinya akan dikebumikan? Bagaimana nantinya, keabadian yang dahsyat itu jauh di sana? Dan apakah saya diselamatkan? Sudah benarkah pertobatan saya? Sudah benarkah kepercayaan saya? Sudah benarkah yang saya percayai? Apakah saya sudah lahir kembali? Sudahkah saya diperbaharui? Apakah baik untuk saya? Apakah sudah benar dengan saya? Apakah saya sudah aman? Dan hidup kita sama seperti kehidupan dari seorang yang pelit yang merasa khawatir serta merasa penuh dengan ketakutan mengenai kantung-kantung emasnya yang berharga.

 

Oh, saudaraku, betapa berbedanya jaminan yang indah dari rasul Paulus: “Kepada-Nya telah kupercayakan seluruh kekayaan dari jiwaku dan hidupku untuk hari Tuhan itu, dan aku tahu dan telah merasa yakin bahwa Dia berkuasa untuk memelihara tanggung jawab tersebut.”

 

Apakah saudara-saudara berfikir demikian? Apakah Dia seorang pelindung yang agung? Apakah perlindungan-Nya tidak terkalahkan? Apakah Gembala ternak yang agung itu berkuasa untuk memelihara domba-domba-Nya? Apakah Dia akan membawa kita tanpa kesalahan serta tanpa kekeliruan pada Hari Tuhan nanti? Apakah Dia akan kehilangan kita? Apakah beberapa dari antara kita akan gagal di dalam perjalanan itu? Apakah beberapa dari antara kita pada akhirnya akan tersesat? Apakah Dia berkuasa memelihara kita semua? Dapatkah Dia? Bisakah Dia?

 

Mengapa, wah, karena Iblis, untuk melepaskan tangan Tuhan Allah bahkan dari salah satu dari domba-domba-Nya, pertama-tama dia bersama-sama dengan rombongannya, harus meliputi dan menyerbu serta menggulingkan bala tentara Tuhan Allah di muka bumi ini. Lalu kemudian dia harus memanjat dan menimbang pertempuran dari surga dan di sana meletakkan malaikat-malaikat terang yang beribu-ribu jumlahnya untuk melayani Tuhan Allah siang dan malam. Dan kemudian, menusukkan tangan-tangannya yang jahat ke dalam jantung dan dada Tuhan Allah serta mencabik-cabik langsung dari jiwa dan hati serta cinta kasih Tuhan Allah sendiri. Dapatkah Iblis melakukakan hal tersebut? Dapatkah dia? “Karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.” Berkuasa memelihara Paulus dalam kehidupannya yang sekarang serta di dalam penjemaatannya yang sekarang, kembali ketika Paulus berdiri atau duduk serta menuliskan ayat-ayat ini. Berkuasa memelihara kita di dala kehidupan ini.

 

Paulus ibarat seekor domba yang dikelilingi oleh serigala-serigala yang buas, akan tetapi hidupnya adalah abadi sampai pekerjaannya selesai. Dan saya fikir seharusnya kita semua harus yakin akan hal tersebut. Sampai Tuhan Allah telah menyelesaikan, melalui saya, pekerjaan yang telah ditugaskan kepada saya, saya tidak dapat dihancurkan. Saya tidak dapat binasa. Jangan pergi melalui jalan yang menakutkan serta mengkhawatirkan itu. Jangan hadapi suatu hari dengan ketakutan serta ramalan. Sampai pekerjaan saudara-saudara selesai, dan sampai tugas-tugas saudara-saudara sekalian selesai, hidup saudara-saudara tidak akan dapat disentuh oleh Iblis. Semuanya kekal.

 

Tuhan Allah memiliki pekerjaan untuk kita kerjakan di dunia ini, dan apabila pekerjaan itu telah selesai dilaksanakan, dan semua tugas tersebut telah selesai dikerjakan, untuk dipanggil naik ke atas untuk menerima upah kita yang besar merupakan keinginan serta pengharapan dan visi serta aspirasi dari kehidupan yang besar. Akan tetapi sampai tugas itu selesai dikerjakan tidak ada suatu kuasa apapun di neraka maupun di bumi ini yang sanggup menyentuh ataupun membinasakan kita. Kita menjadi kekal sampai tugas kita selesai dikerjakan.

 

Paulus, dimasukkan ke dalam penjara di bawah tanah, dikelilingi oleh musuh-musuhnya dari segala penjuru, dengan roh dari Nero bangkit di hadapannya. Paulus berkata, “Tetapi Firman Tuhan tidak berbatas.” Paulus berkata, “Terang itu tidak dapat dipadamkan. Dan hidupku berada di dalam tangan-Nya, dan dia berkuasa memelihara aku.” Paulus percaya dia akan diperlihara dan dia terpelihara. Kita tidak akan menjalani hidup di dalam rasa khawatir dan di dalam rasa takut dan di dalam peramalan. Tuhan Allah akan menolong aku jika aku akan pernah terjatuh di suatu hari atau di suatu waktu nanti. Apakah suatu penyakit yang menakutkan yang akan mengurangi aku? Apakah sebuah kecelakaan yang mengerikan yang akan merenggut nyawaku? Apakah dengan kelemahan akibat usia yang sudah uzur ketika pemikiranku menghilang dan tubuhku membusuk? Aku tidak tahu. Bukan hakku untuk mengatakannya. Tuhan Allah mempercayakan tugas-tugas untuk masing-masing dari kita, dan sampai tugas-tugas tersebut selesai dikerjakan, hidup kita akan menjadi kekal. Terikat kepada-Nya dan Dia berkuasa memelihara kita.

 

Dia sedang membicarakan tentang kebangkitan. Bagi seorang penganut agama Kristen – bagi kita – keajaiban, mujizat, kemuliaan dari kebangkitan tidak akan pernah tenggelam. Saya tidak menyangkal bahwa orang-orang yang berpandangan sesat ini dan orang-orang Saduki ini dan para pencemooh, para pengolok-olok serta para pengejek ini menertawakan pengharapan yang seperti itu.

 

Tubuh saya, dengan sebenar-benarnya, dapat dihembuskan laksana debu yang meliputi permukaan tanah. Tubuh itu dapat diserap ke dalam tumbuh-tumbuhan di permukaan bumi ini. Tubuh itu dapat di makan serta dicerna oleh hewan-hewan. Tubuh itu boleh saja melalui ribuan kali pendauran. Akan tetapi kuasa dari Tuhan Allah yang pertama kali menciptakan kita dapat menciptakan kita untuk yang kedua kalinya. Satu keajaiban, mujizat, ketakjuban akan hal tersebut, merupakan kemegahan yang sama tidak dapat dibandingkan serta tidak dapat dipahami sama sepertiyang lainnya. Semuanya serupa. Keduanya merupakan hal yang serupa.

 

Dan Tuhan Allah telah berjanji bahwa walaupun kita terjatuh pada debu tanah dan terkubur di kedalaman laut, meskipun demikian kita tetap hidup di dalam pandangan Tuhan Allah. “Aku tahu bahwa Penebusku hidup; dan melalui, melalui kulitku, cacing-cacing membinasakan tubuh ini, walaupun demikian, di dalam dagingku, aku akan melihat Tuhan Allah, kepada Siapa aku akan melihat untuk diriku sendiri dan bukan yang lainnya.”

 

Kita akan berdiri serta tinggal di hadirat-Nya. Dia berkuasa untuk memelihara kita. Dan, tentu saja, dia sedang membicarakan tentang hidup yang cemerlang serta upah di dunia yang akan datang nantinya. Dia memiliki kekuasaan untuk meletakkan kita di tangan kanan Tuhan Allah. Dia memiliki kekuasaan untuk menempatkan kaki-kaki kita pada sebuah gunung batu. Dia berkuasa untuk memahkotai kita ketika yang lainnya mendapat kutuk. Untuk memasukkan kita ke dalam surga sementara yang lain dikirimkan ke dalam kegelapan yang terpisah dan kekal. “karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.” Bagaimanapun juga perbuahannya, bagaimanapun urgensinya, bagaimanapun keberuntungannya, bagaimanapun imannya, Tuhan Allah mampu dan Dia tidak akan pernah gagal. 

 

Sekarang, Paulus mendapatkan sebuah dasar yang indah untuk jaminan tersebut – “Karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku.”  Ada tiga kali dia menyinggung Tuhan di dalam kalimat yang kecil itu, tiga kali.

 

Sekarang Paulus merupakan orang yang sudah tua. Dia menyebut dirinya sendiri sebagai Si Tua Paulus. Ketika dia menuliskan surat ini, ia sedang mempersiapkan diri untuk menjadi martir. Dia melihat kembali ke belakang pada tahun-tahun dari kehidupannya serta pelayanannya dan penjemaatannya – kemuridannya yang diterimanya dari tangan Yesus. Dan merupakan orang yang sudah tua yang menulis setelah meditasi serta pencerminan dan pengalaman yang panjang, ketika dia mengatakan, “Karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin.” Kemudian bagaimana dan mengapa?  Apa yang menjadi dasar dari pengetahuannya serta kepercayaannya? Hal itu berada di dalam dirinya. “Karena aku tahu kepada siapa.” Dan sebanyak tiga kali dia menyinggung nama Tuhan, “Karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku.” 

 

Dasar dari pengharapannya serta imannya, kepercayaannya serta pengetahuannya berada di dalam Kristus, Tuhan itu sendiri. Dia belum percaya kepada sebuah abstraksi. Dia tidak meletakkan kepalanya pada sebuah bantal spekulasi. Dia bahkan tidak mengatakan, “Karena aku tahun dan aku yakin karena ajaran-ajaran atau karena orang-orang beriman atau oleh bahasa kata-kata. Aku tahu karena aku mendapatkan bentuk dari keserasian kata-kata. Atau aku tahu karena aku telah mempelajari doktrin tersebut.” Doktrin-doktrin tidak menyelamatkan kita. Pernyataan Kepercayaan tidak dapat menyelamatkan kita. Ilmu agama tidak dapat menyelamatkan kita. Pengharapan kita serta iman kita dan kepercayaan kita serta pengetahuan kita terbatas dan didirikan di atas keseluruhan pribadi dari Tuhan kita sendiri. Bukan apa, tetapi kepada Siapa. Saya tahu kepada Siapa, bukan apa. Saya menemukan sebuah puisi kecil yang dengan begitu indahnya berkata akan hal tersebut, 

 

Bukan apa, tetapi kepada Siapa

Aku benar-benar percaya

Bahwa di saat-saat kebutuhanku yang paling kelam

Telah menghibur bahwa tidak ada pernyataan kepercayaan yang kekal

Yang dapat diberikan kepada manusia yang tidak kekal. 

 

Bukan apa, tetapi kepada Siapa. 

Karena Kristus adalah lebih

Daripada semua pernyataan kepercayaan

Dan seluruh hidup-Nya yang penuh dengan perbuatan yang lemah-lembut

Akankah semua pernyataan kepercayaan akan hidup lebih lama. 

 

Bukan apa, tetapi kepada Siapa. 

Bukan apa yang aku percayai, akan tetapi kepada Siapa.

Yang berjalan menyertai aku

Di dalam kegelapan.

Yang mau berbagi beban, berbagi rasa jemu,

 

Seluruh jalan yang gelap

Menerangi titik kematian

Dan meminata untuk melihat di belakang pemakaman.

Kehidupan yang lebih besar untuk ditinggali,

Bukan apa yang aku percayai

Akan kepada Siapa.

 

Bukan apa, tetapi kepada Siapa. 

 

Oh, Saya sangat menyukainya. Salah satu dari orang-orang muda yang baru, salah satu dari kaum ilmuwan agama yang kecil yang duduk di samping dari orang kudus tua yang sedang sekarat untuk menghibur dia di dalam terjemahannya. Dan orang muda yang baru itu mengutip Kitab Suci itu dan mengatakannya seperti ini, “Karena aku tahu kepada Siapa aku percaya.” Dan orang kudus itu mengangkat tangan yang sudah kurus kering itu serta berkata, “Tidak, anakku, tidak – bahkan tidak ada sebuah kata depan di antara jiwaku dengan Juru Selamatku. Aku tahu kepada Siapa aku percaya.” Bukan kepada pengajaran, bukan kepada pernyataan kepercayaan, bukan kepada hukum, bukan kepada bahasa, bukan kepada sebuah bentuk, bukan kepada seseorang, tetapi keseluruhan Juru Selamat, “Aku tahu kepada Siapa aku percaya.”

 

Ada dua jenis pengetahuan, secara akademis dan berdasarkan pengalaman. Pengetahuan akademis merupakan sebuah pengetahuan tentang kalkulus, matematika, geologi, astronomi, antropologi – seluruh ilmu pengetahuan yang ada. Mengenai atom serta bagaimana mereka menunjukkan reaksi. Puncak gunung Everest dan seberapa tinggi dan seberapa besar dan seberapa dinginnya gunung tersebut. Pengetahuan akademis, perihal semua yang telah kita ketahui.

 

Ada jenis pengetahuan yang lain, sebuah pengetahuan yang menyelamatkan, sebuah pengetahuan pribadi, sebuah pengetahuan yang datang oleh pengalaman serta kepercayaan dan iman dan cinta kasih serta doa dan pengabdian dan kepatuhan sebagai murid. “Karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa.” Itulah yang dinamakan dengan sebuah pengetahuan berdasarkan pengalaman, sebuah pengetahuan yang menyelamatkan, sebuah pengetahuan pribadi. Saya mengenal Dia di dalam pengampunan atas dosa-dosa. Aku mengenal Dia di dalam sebuah persekutuan dari komuni serta doa. Saya mengenal Dia, Tuhan Allah dari seluruh penghiburan. Saya mengenal Dia Juru Selamat jiwa. Pengetahuan ini serta kepercayaan ini tidak dibangun di atas mudahnya untuk percaya atau hal-hal yang bersifat gaib atau atas ketidak-tahuan. Pengetahuan ini dibangun di atas sebuah kehidupan dari kepercayaan serta pengabdian yang agung.

 

Sebuah buli yang dihembuskan oleh angin, di hembuskan di sini dan ke depan, tidak memeiliki sebuah kehidupan di dalamnya. Dan ketika ketika angin yang berhembus itu terhenti, maka bulu itu kemudian akan terjatuh ke tanah. Demikianlah agama kepercayaan dari spekulasi, dari metafisis, dari filosofi, dari manusia alami. Akan tetapi berbeda dengan burung elang, biar bagaimanapun angin berhembus, mengangkat kedua sayapnya dengan kekuatannya, tinggal di hadapan sang mentari.

 

Demikianlah agama yang berdasarkan pengalaman, berdasarkan kebenaran, dan berdasarkan Kristus. Dan demikianlah kepercayaan yang besar dari rasul kita Paulus, “Karena aku tahu, aku tahu, dan aku yakin. Aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin. Aku telah percaya, oleh karena itu aku merasa yakin.” Bukan seperti ini, “Aku telah mengikut Kristus dan aku yakin. Aku telah mencoba untuk menjadi seperti Dia dan aku yakin. Aku telah mencapai ke dalam seluruh objek tersebut yang begitu mencerminkan Kristus dan surgawi serta keilahian, dan aku telah diyakinkan. Bukan. “Aku telah percaya. Aku telah berjanji, dan aku yakin.”  “Aku diyakinkan di sana bahwa baik kematian ataupun kehidupan ataupun para malaikat ataupun kerajaan, ataupun kekuasaan ataupun hal-hal yang ada sekarang ataupun hal-hal yang akan datang nantinya, ataupun ketinggian ataupun kedalaman ataupun penciptaan yang lain yang akan mampu memisahkan kita dari cinta kasih Tuhan Allah yang berada di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”  “Aku percaya oleh karena itu aku yakin.”

 

Pondasi yang agung dari agama kepercayaan kita serta iman kita tidak pernah berada di dalam diri kita sendiri. Pondasi itu berada di dalam-Nya. Untuk melihat ke dalam adalah untuk mengalami putus asa, untuk mengalami kegagalan, untuk mengalami frustasi serta kesia-siaan dan kematian dan ketiadaan. Akan tetapi untuk membuka mata saudara-saudara serta melihat kepada-Nya adalah dengan merasa yakin bahwa Dia berkuasa. “Lihatlah, saudara-saudaraku, lihat dan hiduplah.” “Sebagaimana Musa meninggikan ular itu di padang gurun, demikianlah harusnya Anak manusia itu akan ditinggikan, ditinggikan dan ditinggikan sehingga siapa saja yang percaya di dalam Dia akan diyakinkan.”

 

Maukah saudara-saudara melihat kepada-Nya dan beroleh kehidupan? Bukan kepada doktrin atau pengajaran. Bukan kepada pernyataan kepercayaan. Bukan kepada gereja. Bukan kepada yang ditahbiskan. Bukan kepada pengkhotbah. Hanya dengan melihat kepada Yesus. Lihatlah dan hiduplah. 

 

Di dalam balkon ini dan disekitarnya, mempercayai Yesus sebagai Juru Selamat, maukah saudara-saudara datang? Di dalam kerumunan orang banyak yang ada di lantai yang lebih rendah ini, dari sisi yang satu ke sisi yang lainnya, seseorang dari antara saudara-saudara, engkau, yang memberikan hatinya kepada Yesus. Maukah saudara-saudara datang? Di bawah anak-anak tangga ini. Dari depan sampai kebelakang. Masuklah ke dalam lorong-lorong ini, dari sisi yang satu ke sisi yang lainnya. Sementara kita berseru, sembari kita menyanyikan lagu itu, maukah saudara-saudara datang dan berdiri di samping saya? “Malam hari ini, aku memberikan hatiku kepada Tuhan Allah.  Sebagai tanda daripadanya, aku memberikan tanganku kepada anda.” Apakah di sana ada sekeluarga dari saudara-saudara sekalian, yang datang ke gereja ini? Satu orang, seseorang dari saudara-saudara, kepada Tuhan Siapa kita berseru? Maukah saudara-saudara sekalian menerima Tuhan, melihat kepada-Nya, menaruh kepercayaan kepada-Nya, mempercayai-Nya dan melakukannya sekarang juga?

 

“Inilah aku datang, Pak Pendeta, dan inilah aku.” Sembari kita berdiri dan sembari kita bernyanyi.