LAPORAN DARI ISRAEL (GUNUNG MUSA)

[REPORT FROM ISRAEL (THE MOUNT OF MOSES)]

Dr. W. A. Criswell

Yohanes 20:26-31

02-18-73

 

            Saya mengambil keuntungan dari sebuah kesempatan untuk membuat sebuah perjalanan yang saya pikir, saya tidak akan pernah mendapat sebuah keistimewaan untuk melakukannya. Saya pergi ke Gunung Sinai, tempat di mana Musa berdiri dan Elia berdiri, dan membayangkan kembali undangan yang luar biasa dari Allah di dalam sejarah manusia.

            Pesawat meninggalkan Tel Aviv, dan Archea Airlines, serta Internal airlines di Israel, dan di sana saya diperkenalkan dengan standar keselamatan seperti yang ada di Amerika Serikat ini. Saya tidak pernah melalui sebuah standar keselamatan seperti tindakan pencegahan keamanan seperti yang mereka miliki di Israel ini. Mereka mengambil kamera saya. Mereka menyuruh saya membukanya dan mengeluarkan filemnya. Mereka menyuruh saya menekan tombolnya dan mengambil sebuah gambar, kemudian mereka menyitanya, mengambilnya dari saya dan berkata, “Anda akan memperolehnya kembali ketika anda sampai di tujuan anda.”

            Kemudian mereka mengambil setiap bagian kecil yang saya miliki dan memeriksanya dengan hati-hati. Dan saya bertanya kepada petugas mengapa mereka melakukan sebuah pemeriksaan keamanan yang tidak biasa itu, dia berkata kepada saya, “Hal itu bukan karena kami mencurigai anda.” (Saya terlihat sangat baik dan saya yakin saya terlihat sebagai orang yang jujur) “Itu bukan karena kami mencurigai anda, tetapi mungkin tanpa sepengetahuan anda seseorang mungkin menyelipkan sesuatu di dalam kantong anda, seperti sebuah pulpen kecil atau pin, yang jika berada di pesawat akan meledak dan menghancurkan anda serta penumpang yang lain.”

            Jadi mereka tidak hanya memeriksa barang-barang saya yang bagian luar tetapi juga barang-barang bagian dalam yang saya miliki. Mereka memeriksa saya dari atas hingga bawah, dan memastikan keamanannya sebelum kami masuk ke dalam pesawat yang kecil itu dan siap untuk terbang. Dan untuk pertama kalinya, saya melihat bagian dalam seluruh Paletina dari udara. Penerbangan dari Tel Aviv ke Yerusalem, kemudian menyusuri Laut Mati dan berakhir di Semenanjung Sinai, dan saya dapat melihat dengan jelas dan sangat berkesan bagi saya, yaitu daratan yang dikenal dengan Celah Besar. Dan sangat mendapatkan makna yang ganda saat melihatnya di Israel karena saya telah mengikutinya sejauh ribuan mil hingga bagian Timur Afrika.

            Suatu masa di geologi masa lalu, jutaan tahun yang lalu, ada sebuah retakan yang membelah bumi. Hal itu dimulai dari sini, di bagian utara di Siria dan Libanon. Pada suatu waktu, barisan Lebanon merupakan jajaran pegunungan yang besar, tetapi retakan yang besar telah membagi pegunungan Libanon itu menjadi Libanon dan Anti Libanon. Dan ada sebuah lembah yang besar di antara keduanya dan celah itu mengalir dan membentuk Laut Galilea. Dan selanjutnya turun dan membentuk Sungai Yordan. Dan hal itu terus berlanjut ke bawah dan membentuk Laut Mati. Dan terus ke bawah dan terus ke bawah, ke pegunungan Edom yang berada di satu sisi dan pegunungan Saudi Arabia berada di bagian lainnya dan tanah Negeb Israel serta semenanjung Sinai berada di sisi yang lainnya. Dan celah itu terus turun dan membentuk Laut Aqaba atau Laut Iran. Dan terus turun dan turun membentuk Laut Merah dan terus melintas turun sepanjang Afrika Barat, dan membentuk danau-danau yang luas di Afrika  seperti Danau Viktoria, Danau Tanganyika, Danau Albert atau Edward, celah itu terus turun dan berakhir di Afrika Selatan, yang sangat dalam, dan kepulauan Madagaskar yang terpisah dari daratan utama dan menjadi terisolasi pada hari ini.

            Celah itu atau retakan itu memiliki banyak kaki dan dan bermil-mil lebarnya dan hal itu mudah dilihat sepanjang jalan hingga ujung Afrika. Dan di dalam retakan itu terdapat Galilea, Yordan, Laut Mati, terus mengalir ke bawah hingga Laut Aqaba. Dan ketika kita tiba di Laut Aqaba, sebuah tangan dari laut Merah yang mengarah ke bagian utara, hal itu tiba-tiba berhenti.

            Seringkali sebuah samudera akan memiliki sebuah pinggir lekukan yang berasal dari dalam, tetapi tidak dengan Aqaba. Dia berhenti seolah-olah anda telah membendungnya, seakan-akan manusia telah membangun sebuah bendungan di bagian atasnya. Dan di sisi Aqaba ada sungai Yordan dan di sisi lainnya ada sungai Elat yang menjadi milik Israel, dan mereka tepat berada di sana secara bersama-sama. Dan anda tidak hanya melihat sebuah celah yang membelah bumi, tetapi anda juga dapat melihat dengan jelas di dalam hubungan manusia antara Arab dan Yahudi. 

            Aqaba berada di sebelah sini dan Elat berada di sebelah lainnya, dan perahu Yordan berada di bagian yang satu dan perahu Israel berada di sisi lain dan hampir berdampingan. Teluk itu sangat kecil, dan lebarnya hanya sekitar tiga mil. Kapal-kapal Israel dipenuhi dengan minyak. Tangker minyak yang besar datang dari Teluk Persia dan mengisi kargo mereka yang berat dan dipompa melintasi semenanjung Sinai ke Askelon ke bagian lain dari Mediterania.  

            Dan celah itu terlihat dalam dua bagian pararel yang dapat anda ikuti bermil-mil melalui padang gurun. Jalan ini berada di sebelah sini dan dari atas pesawat hal itu kelihatan sangat dekat. Jalan ini berasal dari Aqaba menuju Amman dan berada di Arab Yordania. Dan jalan ini berasal dari Elat ke Tel Aviv. Dan di Israel, dan di antara dua jalan ini, di padanga gurun yang membara, merupakan garis demarkasi antara bangsa Arab Yordania dan bangsa Yahudi Israel. 

            Kita mengikuti Aqaba hingga Laut Merah dan berakhir di Aqaba, laut Aqaba, lengan Aqaba yang merupakan bagian dari Laut Merah, di sana ada sebuah selat, sebuah pintu masuk dari Laut Merah ke Aqaba dan itu disebut dengan selat Teheran. Lebarnyanya hanya sekitar delapan ratus yard—seperti sebuah garis lurus dimana kapal dapat datang dari dunia hingga Elat atau Aqaba. Dan senjata-senjata ditempatkan di sana untuk mengontrol selat itu.

Itu adalah tempat di mana pada tahun 1956, Nasser memulai perang dengan Israel dengan memblokir selat itu. Dan pada tempat yang sama, pada tahun 1967, perang kedua Nasser dimulai lagi dengan memblokir selat itu. Saya mengambil gambar dari semua tempat ini dengan harapan bahwa saya akan dapat menunjukkannya kepada jemaat kita pada suatu waktu, dan saya juga mengambil gambar dari dua senjata itu.

            Bukankah sangat luar biasa bahwa seluruh samudera dapat diblokir dengan dua senjata, saya telah mengambil foto dari dua senjata itu yang sekarang telah hancur, bahwa orang-orang Mesir memblokir teluk Teheran itu dan membuatnya mustahil untuk dilewati oleh kapal-kapal Israel. 

Dan setelah tahun 1956, sebuah komisi PBB ditempatkan di sana yaitu di Teheran. Tetapi dibawah perjanjian PBB dan sebuah komisi PBB diminta untuk meninggalkan tempat itu, mereka wajib meninggalkan tempat itu. Jadi, ketika Nasser meminta PBB untuk meninggalkan tempat itu pada tahun 1967, itu menjadi sebuah tanda bagi Nasser untuk memulai perang dengan memblokir tempat itu, yaitu di selat Teheran.

            Setelah pesawat yang kami tumpangi melintasi tempat itu dan melewati semenanjung Sinai, keluar dari pesawat. Saya minta maaf karena tidak dapat mengambil foto dari wilayah yang keras itu. Dan dari sana ada bus yang menempuh jarak sekitar empat puluh lima menit dari tanah yang datar itu menuju Gunung Sinai dan biara St. Catherine yang di bangun di kaki puncak timbunan yang bergerigi itu.

Dan ketika saya melihat wilayah itu, dan beberapa kali bus berhenti agar kami dapat berjalan di sekitarnya dan mengambil gambar—ketika saya melihat wilayah itu, saya pikir tempat itu hampir sama dengan permukaan bulan—timbunan besar yang bergerigi itu terbuat dari batu yang keras, dan lembah-lembahnya juga terdiri dari bebatuan yang keras serta batu-batu yang sangat besar bertebaran di mana-mana, dan tidak ada kehidupan yang terlihat. Tempat itu sangat tandus, kering, mengerikan dan menakutkan.

            Ketika saya melihat tanah itu, saya tidak dapat membayangkan kemustahilan dari sebuah keramaian dari pada ketika Musa dapat membawa orang Israel yang jumlahnya lebih dari dua juta orang—mungkin tiga juta orang Isreal—keluar dari Mesir dan selama empat puluh tahun dapat bertahan di tempat yang tandus itu. Dari mana mereka memperoleh makanan? Dari mana mereka memperoleh air? Sungguh itu merupakan sebuah pemeliharaan dari Allah yang mengirimkan manna dan perlindungan pemeliharaan Allah yang mengeluarkan air dari batu karang itu yang menyokong umat Allah dari tempat yang membara itu.  

           Seperti yang saya katakan, saya dapat membayangkan permukaan bulan persis sama seperti pegunungan di semenanjung Sinai itu. Lembah itu sangat tandus sehingga tubuh biarawan dari St. Catherine, sebuah biara yang terletak di kaki gunung itu selama 1. 500 tahun, tidak dikubur seperti yang kita lakukan—tempat itu sangat gundul dan tanahnya sangat keras sehingga seorang biarawan yang meninggal di kuburkan dalam sebuah tempat tertutup, dalam sebuah taman, dan setelah dua tahun, tubuh mereka akan digali dan kerangka mereka serta tulang-tulang mereka secara hati-hati ditempatkan dalam sebuah ruangan yang terdapat di dalam biara itu untuk memberikan tempat bagi biarawan lain yang meninggal dan dikuburkan di tempat yang sama. Dan ruangan kerangka itu dipenuhi dengan ribuan kerangka dan tulang belulang.  

            Dan saya bertanya kepada salah satu biarawan itu, “Mengapa anda tidak membiarkan tubuh orang yang telah meningggal tetap terkubur?” Dan jawabannya adalah, “Tidak ada tanah di sini sehingga kami dapat menguburkan orang yang telah meninggal, tetapi hanya bisa di dalam sebuah taman kecil yang tertutup itu. Dan kemudian setelah dua tahun, dia akan diambil kembali kerangkanya akan ditempatkan di rungan itu.”

            Sulit untuk saya bayangkan bahwa tidak ada tanah di tempat itu—tidak cukup untuk menguburkan orang-orang yang telah meninggal. Itu adalah tempat yang penuh batuan dan batu-batu besar yang bertebaran di mana-mana. Dan ketika saya berada di sana dan melihat batu-batu yang besar itu dan Gunung Sinai itu, bahwa suatu kali tempat itu bergemuruh dengan kehadiran Allah, dan terbakar dengan firman Tuhan:

            “Berfirmanlah Tuhan kepada Musa: "Pergilah kepada bangsa itu; suruhlah mereka menguduskan diri pada hari ini dan besok, dan mereka harus mencuci pakaiannya. Menjelang hari ketiga mereka harus bersiap, sebab pada hari ketiga Tuhan akan turun di depan mata seluruh bangsa itu di gunung Sinai. Sebab itu haruslah engkau memasang batas bagi bangsa itu berkeliling sambil berkata: Jagalah baik-baik, jangan kamu mendaki gunung itu atau kena kepada kakinya, sebab siapapun yang kena kepada gunung itu, pastilah ia dihukum mati. Tangan seorangpun tidak boleh merabanya, sebab pastilah ia dilempari dengan batu atau dipanah sampai mati; baik binatang baik manusia, ia tidak akan dibiarkan hidup. Hanya apabila sangkakala berbunyi panjang, barulah mereka boleh mendaki gunung itu." Lalu turunlah Musa dari gunung mendapatkan bangsa itu; disuruhnyalah bangsa itu menguduskan diri dan mereka pun mencuci pakaiannya. Maka kata Musa kepada bangsa itu: "Bersiaplah menjelang hari yang ketiga, dan janganlah kamu bersetubuh dengan perempuan."

Dan terjadilah pada hari ketiga, pada waktu terbit fajar, ada guruh dan kilat dan awan padat di atas gunung dan bunyi sangkakala yang sangat keras, sehingga gemetarlah seluruh bangsa yang ada di perkemahan. Lalu Musa membawa bangsa itu keluar dari perkemahan untuk menjumpai Allah dan berdirilah mereka pada kaki gunung. Gunung Sinai ditutupi seluruhnya dengan asap, karena Tuhan turun ke atasnya dalam api; asapnya membubung seperti asap dari dapur, dan seluruh gunung itu gemetar sangat. Bunyi sangkakala kian lama kian keras. Berbicaralah Musa, lalu Allah menjawabnya dalam guruh.”  Dan Musa naik ke atas gunung yang menakjubkan itu dan menerima dari tangan Allah sendiri dua lempeng batu.

            Oh, betapa sebuah tempat yang menakutkan dan sebuah tanda yang menakutkan, Gunung Sinai! Kemudian sekali lagi, Gunung Sinai dikunjungi oleh nabi Elia setelah kemenangannya dan kejayaannya di Gunung Karmel. Dan setelah mendapat ancaman dari tangan Izebel, di dalam kekecewaan dan keputusasaan, Elia melarikan diri dari ratu Israel dan tiba ke tanah Negeb Bersyeba, dia duduk di bawah sebuah pohon arar dan ingin mati. Tetapi Tuhan menampakkan diri kepadanya melalui seorang malaikat dan berkata, “Bangunlah, makanlah! Sebab kalau tidak perjalananmu akan terlalu jauh bagimu.”

Dan oleh kekuatan makanan itu ia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb atau Gunung Sinai. Di sana masuklah ia ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ, lalu Tuhan datang mengunjungi Elia.

Yang pertama, datanglah angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului Tuhan. Tetapi tidak ada Tuhan dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada Tuhan dalam gempa itu. Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada Tuhan dalam api itu.

Dan sesudah  angina besar dan gempa yang kuat dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa. Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu dan bersujud di hadapan hadirat Tuhan, sama seperti Musa sebelumnya, yang berdiri di hadirat semak menyala yang tidak terbakar setelah dia menanggalkan kasutnya dan mendengar suara Tuhan. Oh, betapa sebuah tempat yang mengagumkan, yang kudus dan bergerigi, gunung yang sangat mempesona!

           Lalu, apakah maksud dari hal itu bagi orang Kristen? Oh, sangat banyak! Satu hal, tempat itu adalah salah satu tempat dari penemuan arkeologi yang terbesar sepanjang masa yang dilakukan oleh  Count Tischendorf di dalam biara yang telah didirikan di dasar gunung yang hebat itu. Selama 1.500 tahun hingga hari ini, Gereja Ortodoks Yunani membangun sebuah biara di kaki Gunung Sinai.

Dan tempat itu sendiri merupakan sesuatu yang mengagumkan. Satu-satunya jalan untuk dapat masuk ke sana di tahun-tahun yang lampau hanya melalui sebuah lift, sebuah keranjang yang naik turun untuk menyambut kedatangan anda.

            Tidak ada jalan masuk ke biara itu. Hanya ada sebuah pondok tua yang dibangun di tempat itu. Tempat itu dibangun untuk para pengembara dan karena tempat itu juga menjadi sebuah tempat istirahat bagi orang-orang muslim yang berziarah ke Mekah, maka di perpustakaan biara yang luas itu terdapat surat dari Muhammad yang menjadikan tempat itu sebagai sebuah tempat suci.

            Di sana juga ada sebuah surat dari Napoleon Bonaparte, untuk menghindari penghancuran tempat itu. Dan di sana juga ada sebuah surat dari Perdana Menteri Israel yang pertama, yaitu Golda Meir, yang membuatnya menjadi sebuah tempat suci. Dan itulah sebabnya di dalam pertempuran yang hebat dengan pengikut Mumammad pada tahun 622 A.D., biara dan gereja yang ada di dalamnya ditiinggalkan tanpa mengalami kerusakan sedikit pun. Itu adalah sebuah tempat suci di dalam pandangan seluruh umat manusia.

           Tetapi tempat itu menjadi penting bagi kita karena  Tischendorf, Count Tischendorf, seorang sarjana kritik teks, mencari manuskrip dari Perjanjian Baru. Pada tahun 1844 dia datang ke biara itu yang berada di bawah kaki gunung Sinai, dia melihat sebuah keranjang sampah dimana para biara menggunakannya untuk menyalakan api. Dan dia mengambil lembaran yang berharga itu dan dia hanya memperoleh empat puluh tiga lembaran dari keranjang itu. Dan dia berbicara kepada para biarawan itu, mereka berkata bahwa itu adalah bagian dari banyak lembaran-lembaran lainnya, tetapi dia tidak dapat menemukan sisa kitab itu. Dan pada tahun 1859, dia kembali lagi bersama dengan sebuah komisi dari Tsar Rusia yang merupakan kepala gereja Ortodoks Yunani, dia memiliki akses yang mudah ke biara itu dan mencari manuskrip itu, akan tetapi dia tidak menemukannya.

            Dan di dalam keputusasaan, setelah ditinggalkan bersama dengan seorang biarawan, biarawan itu meminta dia untuk pergi ke ruangannya untuk istrirahat dan ketika mereka berada di sana, biarawan itu mengeluarkan dari ruangannya sebuah manuskrip yang dibungkus dalam sebuah kain merah. Dan ketika dia membukanya, Tiscendorf segera mengenali bahwa itu adalah sisa-sisa lembaran dari kitab yang pernah dia lihat pada tahun 1844, lembaran-lembaran yang digunakan untuk menyalakan api. Dia mengambil manuskrip itu. Itu adalah kodeks kuno, satu-satunya manuskrip kuno yang di dalamnya terdapat keseluruhan isi Perjanjian Baru.

            Dia membawanya kembali dan mempersembahkannya kepada Tsar. Dia menyebutnya Kodeks Aleph, surat pertama dalam alphabet Ibrani. Dan itu merupakan dasar dari kritik tekstual bagi kebenaran firman Perjanjian Baru.

            Pada tahun 1933, pemerintah Rusia menjual manuskrip itu kepada museum British seharga 500.000 dan saya telah melihatnya di museum Inggris itu. Harga termahal dari apa yang dimiliki oleh orang Kristen, manuskrip kuno yang memuat seluruh isi Perjanjian Baru.

            Ah, apa yang telah Allah lakukan! Dan itu terjadi di dalam biara itu. Saya telah pergi ke perpustakaan di mana Tiscendorf menemukan manuskrip itu. Dan di sana masih banyak manuskrip kuno, kitab-kitab kuno yang dijaga dan dirawat oleh biarawan Orthdoks Yunani itu.

Tetapi apakah makna yang lain dari Gunung Sinai bagi orang Kristen? Sinai digunakan sebagai sebuah tipe untuk mengkontraskan antara penghukuman oleh Taurat dan anugerah yang kita temukan di dalam kasih karunia dan pengorbanan Kristus di atas Bukit Kalvari.

Saya mengambil dari dua tempat di Perjanjian Baru di mana Gunung Sinai dikontraskan dengan Gunung Kalvari. “Katakanlah kepadaku,” tulis Paulus kepada orang-orang Galatia di dalam surat Galatia pasal empat, "Katakanlah kepadaku, hai kamu yang mau hidup di bawah hukum Taurat,”—bahwa dengan menuruti hukum Taurat akan diselamatkan—“tidakkah kamu mendengarkan hukum Taurat? Bukankah ada tertulis, bahwa Abraham mempunyai dua anak, seorang dari perempuan yang menjadi hambanya (Hagar) dan seorang dari perempuan yang merdeka (Sarah)? Tetapi anak dari perempuan yang menjadi hambanya itu diperanakkan menurut daging dan anak dari perempuan yang merdeka itu oleh karena janji. Ini adalah suatu kiasan. Sebab kedua perempuan itu adalah dua ketentuan Allah: yang satu berasal dari gunung Sinai dan melahirkan anak-anak perhambaan, itulah Hagar-- Hagar ialah gunung Sinai di tanah Arab--dan ia sama dengan Yerusalem yang sekarang, karena ia hidup dalam perhambaan dengan anak-anaknya. Tetapi Yerusalem sorgawi adalah perempuan yang merdeka, dan ialah ibu kita.”

            Sinai tiba di dalam pesan Kekristenan, untuk menyajikan hukum dan hukuman Allah bagi orang-orang yang tidak mematuhi perintah-perintahNya. Dan tidak seorang pun dari kita, kata sang rasul, yang sanggup mentaati perintah-perintah itu. Kita telah kehilangan kemuliaan Allah, tetapi anugerah yang kita miliki di dalam Kristus telah melepaskan kita dari perbudakan hukum. Dan kita menemukan pengampunan atas dosa-dosa kita di dalam darah tebusan Kristus. 

Inilah yang ditulis Paulus dalam Surat Galatia. Sekarang inilah yang ditulis oleh penulis Ibrani, kontras antara Sinai dan Bukit Kalvari: “Sebab kamu tidak datang kepada gunung yang dapat disentuh dan api yang menyala-nyala, kepada kekelaman, kegelapan dan angin badai, kepada bunyi sangkakala dan bunyi suara yang membuat mereka yang mendengarnya memohon, supaya jangan lagi berbicara kepada mereka.

Sebab mereka tidak tahan mendengar perintah ini: "Bahkan jika binatangpun yang menyentuh gunung, ia harus dilempari dengan batu." Dan sangat mengerikan pemandangan itu, sehingga Musa berkata: "Aku sangat ketakutan dan sangat gemetar.”

Inilah Gunung Sinai dan hukuman Allah yang mengerikan bagi orang yang tidak mentatati hukumNya. Akan dibakar dengan api. Hal itu sangat aneh bagi yang mendengarnya, karena suaranya yang mengerikan. Itu adalah hukuman kematian, Gunung Sinai, “Tetapi kita datang ke Bukit Sion. Dan, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah. Dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga, dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna, dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru, dan kepada darah pemercikan, yang berbicara lebih kuat dari pada darah Habel.”

            Sinai dalam kengeriannya, Sinai dalam kehebatannya, Sinai di dalam batu-batunya yang besar, yang sangat hebat—Sinai merepresentasikan tuntutan dari Allah yang Mahakuasa. “Lakukanlah hal ini maka kamu akan hidup. Jika engkau tidak mentaatinya maka kamu pasti akan mati.” Baik binatang atau pun manusia yang menyentuhnya, maka dia akan dilempari dengan batu atau dipanah hingga mati.

Sinai adalah hukum Allah dan penghukuman Allah atas kita. Dan hukum berkata, “terkutuklah setiap orang yang tidak taat terhadap segala hal yang tertulis di dalam hukum ini.” Jika saya melanggar satu bagian darinya, saya akan terhilang. Jiwa saya akan dihukum. Dan siapakah yang secara sempurna dapat menuruti hukum Allah?

Kita semua telah jatuh. Kita semua memberontak dalam entah dalam cara yang bagiamana. Tidak ada yang benar dan sempurna, satu orang pun tidak. Dan kegelapan, guntur dan kilat dari hukuman Sinai jatuh menimpa kita. Hukum Allah menghukum kita dan membuat kita mati.

            Dan di dalam kontras dari itu, Tuhan meninggalkan kita di hadapan kita, di dalam firman Suci dan di dalam wahyu, gunung yang disebut Kalvari. Oleh sebuah kota di mana kita tinggal. Yang dapat disentuh, anda dapat menyentuhnya. Dan gunung itu berbicara tentang kasih dan kemurahan serta pengampunan dari Allah. Hal itu terdapat di dalam sebuah salib. Dan Pribadi yang telah mati di salib itu adalah sahabat kita dan Juruselamat kita.

Matahari emas, dan bulan perak serta bintang-bintang yang bersinar telah diciptakan oleh tanganNya yang penuh kuasa dan Dia adalah sahabat saya. Ketika Dia akan datang, ketika sangkakala berbunyi, untuk memperhatikan hidup yang berkemenangan, kita akan bersujud di bawah kakiNya yang mulia, sebab Dia adalah sahabat saya.

Sebab kamu tidak datang kepada Gunung Sinai, menara hukuman yang mengerikan itu, sangat mengerikan pemandangan itu sehingga Musa berkata: "Aku sangat ketakutan dan sangat gemetar.” Tetapi kita datang ke Bukit Sion. Dan, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah, Dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga, dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna, Dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru, dan kepada darah pemercikan yang tidak berbicara tentang penghukuman dan murka tetapi tentang kasig karunia dan pengampunan serta keselamatan.”

            Oh, betapa manis dan betapa penuh kasih Injil yang mulia dari Tuhan Yesus! Dan itu adalah undangan Allah bagi kita pada malam ini. Mari, datanglah!

Di dalam sebuah kesempatan, saat kita menyanyikan lagu permohonan kita, apakah Allah berbicara kepada anda? Buatlah keputusan untuk menjawabnya dengan seluruh hidup anda dan datanglah sekarang. Bagi anda yang berada di atas balkon, seseorang dari anda, atau sebuah keluarga, atau sebuah pasangan—juga bagi anda yang berada di lantai bawah, berjalanlah melalui salah satu lorong ini untuk maju ke depan, dan katakan: “Pendeta malam ini saya akan membuat keputusan dan saya datang sekarang.”

Lakukanlah sekarang, responlah sekarang, turunlah melalui salah satu tangga itu, ke dalam lorong bangku untuk maju ke depan, lakukanlah dan datanglah sekarang, ketika kita berdiri dan menyanyikan lagu permohonan kita.

 

Alih bahasa: Wisma Pandia, ThM