Daftar isi

TINGGAL DI DALAM  ROMA PASAL TUJUH

(LIVING IN THE SEVENTH OF ROMANS)

 

Dr. W. A. Criswell

 

Roma 7:7-25

 

09-26-54

 

 

Malam ini saya berkhotbah dalam Tinggal dalam Roma Pasal Tujuh. Saya berharap hal itu secara praktikal tidak berarti apa-apa bagi setiap orang. Tetapi, bersamaan dengan saya menerangkan khotbah ini, saya berharap anda tidak akan pernah melupakannya: apakah maksudnya tinggal dalam Roma pasal tujuh. 

Jika anda bergabung dengan saya pada malam hari ini dalam Roma pasal tujuh, kita akan mulai membacanya dari ayat tujuh hingga ayat terakhir dalam pasal ini.

Apakah anda sudah siap? Ayat tujuh dari pasal tujuh, dan anda akan mengikutinya sebagaimana saya membaca teks ini:

Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!"

Tetapi dalam perintah itu dosa mendapat kesempatan untuk membangkitkan di dalam diriku rupa-rupa keinginan; sebab tanpa hukum Taurat dosa mati.

Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat. Akan tetapi sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup,

Sebaliknya aku mati. Dan perintah yang seharusnya membawa kepada hidup, ternyata bagiku justru membawa kepada kematian.

Sebab dalam perintah itu, dosa mendapat kesempatan untuk menipu aku dan oleh perintah itu ia membunuh aku.

Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik.

Jika demikian, adakah yang baik itu menjadi kematian bagiku? Sekali-kali tidak! Tetapi supaya nyata, bahwa ia adalah dosa, maka dosa mempergunakan yang baik untuk mendatangkan kematian bagiku, supaya oleh perintah itu dosa lebih nyata lagi keadaannya sebagai dosa.

Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa.

Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.

Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik.

Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku.

Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.

Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.

Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.

Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.

Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah,

Tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.

Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?

Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.

Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.

Itu adalah isi dari pasal tujuh kitab Roma.

            Di sana ada sebuah perpustakaan yang lengkap, yang saya maksudkan sebuah perpustakaan yang secara literal, tentang bagian itu. Ini merupakan sebuah pengantar kepada salah satu pasal yang hebat dalam Alkitab.

Pasal delapan dari kitab Roma adalah salah satu pasal yang hebat dalam Alkitab. Pasal delapan kitab Roma berbicara tentang kebiasaan hidup orang Kristen. Ini merupakan kehidupan orang percaya di dalam semua tingkatan dan pengharapan yang mulia.

Tetapi sebelum pasal delapan ada pasal tujuh dari kitab Roma. Dan pasal tujuh merupakan pengantar kepada pasal delapan. Dan saya berkata bahwa keseluruhan perpustakaan menulis tentangnya. Dan orang-orang ini yaitu para teolog, sarjana dan komentator, bagaimana luasnya perbedaan pandangan mereka tentang pasal tujuh dari Kitab Roma ini.

Apakah anda tahu berapa banyak dia menulis kata “Aku—Aku—Aku” di sini? Sepanjang bagian itu, Aku—“Sebab apa yang akau perbuat, aku tidak tahu”—Aku—aku—Aku sepanjang bagian itu.

Sekarang kita bisa ambil sebuah posisis ekstrim sebagaimana mereka berusaha untuk menyelidiki bagian dalam kitab Roma ini: seorang penginjil besar dan penulis dari abad yang lalu, Charles G. Finey, berkata bahwa ini merupakan gambaran. Ini adalah gambaran Saulus sebelum pertobatannya, pada masa ketika dia masih hidup di bawah Hukum Taurat. Ini adalah sebuah gambaran dari seseorang manusia yang tidak lahir baru dan yang belum bertobat.  

Dan dia berkata, hanya itu alasan bahwa Paulus menggunakan kata “Aku” di sini sebagai sebuah ilustrasi dan bukan pribadinya yang sekarang ini sama sekali. Dan kemudian dia berkata, jika pasal tujuh ini adalah sebuah gambaran dari anda, anda beluh dilahir-barukan dan akan dihukum dan masuk ke dalam neraka.

Itulah yang disampaikan oleh Charles G. Finney yang berkata tentang bagian ini: Jika pengalaman anda adalah seperti dalam pasal tujuh maka anda belum lahir baru. Anda adalah orang hukuman. Anda terhilang. Anda tidak pernah diselamatkan. Anda akan pergi ke neraka. Itu yang dikatakan oleh Charle G. Finey.

Sekarang ekstrim yang lain: beberapa waktu yang lalu, seorang teolog yang luar biasa dan seorang penafsir Alkitab yang tidak ada bandingnya, A.C. Gaebelein, berkata bahwa pasal tujuh dari kitab Roma ini adalah sebuah gambaran dari setiap orang Kristen. Pasal ini menunjukkan perjuangan orang Kristen melawan dosa di dalam jiwanya serta dalam hidupnya. 

Dan keduanya adalah 2 ekstrim yang berbeda. Sekarang pendeta, apa yang anda pikirkan tentang Roma pasal tujuh dan gambaran yang ditulis oleh Paulus di sini?

Inilah yang saya percayai. Saya percaya bahwa pasal tujuh Kitab Roma adalah pengalaman universal setiap manusia dimana saja, anda—saya—kita—kemarin—hari ini—pada generasi masa lalu—generasi yang akan datang. Ini adalah sebuah gambaran umat manusia. Dan hal itu adalah sebuah pengalaman, saya berkata, secara umum kepada setiap orang.

Itu adalah pengalaman Rasul Paulus pada masa ketika dia hidup dibawah hukum Taurat. Dan dengan perbuatan, dengan ritual, dengan usaha, dia berusaha menjadi selamat dengan memegang Taurat, dan gagal dalam kehinaan dan kesedihan, dan akhirnya, dia menemukan keselamatan di dalam Kristus Yesus. Dia menemukan kebebasan yang terpisah dari Taurat hidup di dalam Tuhan, yang digambarkan dalam pasal delapan Kitab Roma.

Sekarang, hal itu merupakan gambaran bagi anda dan saya, dan kita semua, sebelum kita bertobat. Kita berusaha dan kita gagal dan kemudian melemparkan diri kita ke atas kaki Yesus dan Dia menyelamatkan kita.

Dan itu adalah gambaran dari setiap orang dari kita yang sudah diselamatkan. ada sebuah peperangan batin, dan kita berjuang dan kita bertarung, bertempur dan kita gagal. Dan akhirnya kita menyerahkan hal itu kepada Tuhan.

Dan hal itu terjadi secara berulang-ulang. Anda tetap akan bergumul dengan hal itu hari ini dan malam ini, dan juga besok. Hal itu tidak akan berlalu.

Ini adalah gambaran dari setiap manusia. Ini adalah gambaran yang universal dari pergumulan setiap orang: sebuah gamabaran dari orang yang sudah selamat; sebuah gambaran dari orang yang terhilang—sebab saya menemukan sebuah hukum di dalam setiap kita, dan tidak pernah ada sebuah gencatan senjata dan hal itu tidak akan pernah meninggalkan kita.  

Saya tidak akan pernah mendapati diri saya cukup saleh, saya tidak akan pernah mendapat kekudusan yang sempurna, saya tidak akan pernah begitu dekat dengan Allah; saya tidak akan pernah mendapat suatu kerohanian yang sangat tinggi; saya tidak akan pernah memperoleh ketinggian ke dalam surga bahwa saya tidak akan berlanjut menghadapi pergumulan ini. Saya menemukan prinsip itu di mana-mana, dan juga termasuk juga di dalam anda semua.

Tidak ada orang-orang yang saya miliki di sekeliling saya bahwa mereka suci. Kita semuanya berdosa, setiap orang dari kita. Kita semua jatuh ke dalam kejahatan dan kesalahan. Kita tetap melanjutkan hidup dalam dosa, kita semua melakukannya. Tidak ada seorangpun yang saya temukan bahwa mereka cukup suci dan kudus bawa mereka tidak bergumul dan berdosa. Ini adalah sebuah pengalaman yang universal dari orang yang telah selamat dan dari orang yang terhilang. Itu adalah pengalaman Paulus, dia berjuang melawan hal itu.

Bagian ini berbicara tentang kehadiran yang terus menerus dari “manusia lama” dalam kehidupan orang Kristen. Ini adalah pengalaman dari orang muda dan orang tua. Ini adalah pengalaman dari semua peradaban manusia, semua latar belakang pendidikan dan budaya. Ini adalah pengalaman di dunia pemberhalaan, dan semua misionaris menaungi mereka dan memberitakan Allah yang benar kepada mereka. Ini adalah pengalaman dari orang-orang yang rendah dan tidak berguna. Ini adalah pengalaman dari jemaat yang memiliki nilai rohani yang tinggi dan jemaat yang berkadar rohani rendah dan yang bukan jemaat. 

Kita dipisahkan oleh begitu banyak pembagian geografi. Ada perbedaan ras. Ada perbedaan aturan-aturan. Ada perbedaan budaya. Tetapi di sana ada satu faktor persamaan, satu arti yang sama yaitu kehadiran dosa dalam semua kehidupan kita. Yaitu hal ini: Ketika saya ingin melakukan yang baik, maka sesuatu yang jahat hadir dari dalam diri saya. Semua pergumulan dan kesedihan dari setiap generasi teringkas dalam pasal tujuh dari Kitab Roma.

            Berbagai hal mungkin terjadi di luar dan berbagai keadaan mungkin berubah. Saya tetap memiliki sebuah hidup bagi diri saya sendiri. Dan di dalam saya, ada sebuah prinsip kejahatan. Ada sebuah pergumulan, dengan moral yang bagaimanapun, atau  bagaimanapun pintarnya, atau betapapun tinggi budaya atau betapa tingginya pendidikan saya, manusia yang lama saya masih tetap berada di dalam saya.

Seorang penulis suatu kali pernah menulis seperti ini: “Saya mengurung diri saya dengan diri saya sendiri, dan di sana ada prinsip kejahatan, yang menghancurkan diri saya….” Jadi Paulus berkata dalam pasal tujuh kitab Roma: ada sebuah peperangan dalam diri setiap orang—“tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.”

            Dan keduanya, kata Paulus bergumul di dalam. Dan pertentangan itu merupakan pengalaman yang universal dan hal itu tidak berubah sekalipun anda telah menjadi orang Kristen. Anda mungkin berkata, “Pendeta saya akan datang malam ini dan saya akan memberikan hati saya kepada Yesus. Dan Iblis tidak akan dapat lagi menyentuh saya. Dan dia akan meninggalkan saya sendiri. Dan dia tidak akan pernah datang lagi kepada saya. Saya akan menelusuri lorong ini dan memenangkan pertempuran selamanya.”

            Baiklah, anda dapat datang menelusuri lorong itu dan maju ke depan, tetapi anda tidak akan dapat memenangkan peperangan itu dengan cara itu. Ia hanya membuat perbedaan. Anda telah mengambil posisi samping dalam peperangan itu.

            Oh, bukankah hal itu akan menjadi hal besar seandainya, ketika anda memberikan hati anda kepada Yesus, Tuhan akan memberikan kepada anda sebuah hati Anak Domba yang ditempatkan dalam hati anda yang keras? Tetapi masih tetap ada “aku’ di dalam hati anda. Anda belum memenangkan pertempuran itu. Anda hanya baru saja mendaftar menjadi angkatan perang. Anda baru saja mulai untuk siap bertempur. 

            Sekarang saya mengetahui beberapa orang yang berkata, “Saya bergerak melampaui itu. Saya telah disucikan. Saya telah menang melampaui dosa. Saya memiliki berkat. Saya berada dalam posisi atas. Saya kudus dan digerakkan.”

            Dan beberapa pengkhotbah besar sepanjang waktu, seperti John Wesley dan semua pengkhotbah Metodis lainnya, setiap orang dari mereka yang menjadi pengkhotbah Metodis awal adalah seorang pengkhotbah Kesucian. John Wesley adalah seorang pengkhotbah Kekudusan. Dia percaya bahwa anda dapat mencapai sebuah kondisi dimana anda tidak melakukan dosa, mereka percaya bahwa anda dapat memperoleh poin dimana anda tidak berdosa.

            Itu merupakan hal yang luar biasa. Itu merupakan hal yang sangat indah. Saya akan memuliakannya jika ada seseorang yang datang ke atas mimbar ini dan berkhotbah bahwa ia telah mencapai suatu tempat bahwa dia tidak melakukan dosa—bahwa dia telah bergerak maju dalam kehidupan kekristenannya kepada poin dimana dia tidak lagi berbuat dosa. Bukankah hal itu sangat indah sekali.?

            Hanya ada satu hal tentang hal itu yang meankutkan saya dan mengancam saya, dan itu adalah hal ini: anda tahu, dosa berada diatas semua dosa adalah dosa orang Farisi—dosa yang membenarkan diri sendiri—dosa yang bangga terhadap diri sendiri. Ini adalah dosa orang Farisi, yang berkata kepada Allah: “Saya tidak seperti orang-orang lain. Mereka melakukan hal ini. Mereka melakukan itu. Mereka melakukan segala sesuatu. Tetapi saya tidak melakukan ini dan itu dan saya tidak melakukan hal lainnya.”

           Itu adalah cara bagaimana dosa yang membanggakan diri sendiri serta dosa yang membenarkan diri sendiri datang ke dalam kehidupan kita. Anda berpikir bahwa anda lebih baik dari orang-orang yang tidak baik dan orang-orang kotor yang berda di luar sana. Dan anda akan melihat orang lain sebagai pendosa, ketika anda mencapai hal itu, anda akan memandang rendah orang lain.  

            Saudaraku, saya  yakin akan hal itu, selama kita masih tinggal di dalam dunia ini, selama kita masih tinggal di dalam kehidupan ini, kita tinggal di dalam tubuh yang mati. Dan Paulus memberitahukan kita bahwa apa yang terjadi tentang hal ini dalam pasal tujuh Kitab Roma. Orang baik ini, yang telah menulis hal ini, yang mana bahwa dalam setiap orang dari kita yang telah memberikan hati kita kepada Tuhan Yesus dan yang memegahkan diri kita tidak pergi keluar dan hidup seperti dunia hidup—yang tidak pergi keluar dan minum serta mabuk di Minggu malam dan Sabtu malam—kita tidak tinggal dalam cara itu. Kita tidak seperti itu.  

            Tetapi hal itu tidak berarti bahwa prinsip dosa dan kejahatan tidak tinggal di dalam kita, bahkan untuk orang Kristen yang baik seperti penulis ini. Apa yang dia bicarakan di sini adalah hal yang tidak terlukiskan itu. Dengarlah apa yang dia sampaikan: 

 

Ini bukan tentang apa yang telah tanganku lakukan

Yang menekan jiwaku

Betapa sedih yang kurasakan di dalam

Bukankah engkau juga begitu?

Kecuali, mereka tidak dapat  tetapi terlihat sebagian

Karena mereka tidak dapat melihat kedalam hati

Tetapi aku dalam melihat ke dalam diriku sendiri

Dan disana kutemukan dosa yang paling dasar

Yang menyebarkan racunnya melalui pandanganku

Hal itulah yang membuatku menjadi tercela

 

 

 “Oh manusia yang malang”—semuanya tentakel dari hukum Taurat—mengapa, saya warga Negara yang baik dan menjadi anggota gereja, ketika anda memulai untuk mendekat kepada Allah, disana ada dosa, di dalam diri anda yang menbuat anda memiliki hasrat yang kuat.

 “Ya Allah, betapa jauhnya kita berpisah!dan saya selalu merasakan hal itu, semakin dekat untuk menjangkau Allah, semakin anda melihat, di dalam terang Injil, bahwa anda tidak layak untuk berdiri di hadapanNya. “Menjauhlah dariku sebab aku seorang yang berdosa.”

           F.B. Mayer berkata bahwa dia telah dipanggil keluar dari kefarisiannya ketika dia bertemu dengan seorang wanita tukang cuci. Dan dia melihat keluar sana ke arah tali jemuran yang indah, tempat cucian yang indah—cucian yang telah digantung di atas tali jemuran tersebut. Dan dia memberikan pujian kepada wanita itu atas hal itu: betapa baiknya hal itu terlihat dan betapa indahnya hal itu, cucian yang berwarna putih itu.

            Dan hal itu menyenangkan wanita tukang cuci yang tua itu. Dan dia mengundang pendeta itu untuk masuk untuk meminum secangkir teh. Ketika mereka sedang berbicara, langit sangat berawan dan tiba-tiba ada badai salju. Dan ketika pendeta itu pergi,  tanah tertutup dengan lapisan putih, salju yang putih.

            Dan pendeta melihat ke arah tali jemuran dan berkata kepada nyonya itu, “Cucian anda tidak begitu putih lagi sekarang, bukankah begitu?” 

            Wanita tukang cuci itu menjawab dan berkata, “Pendeta tidak ada yang salah dengan cucian itu. Tidak ada yang dapat dibandingkan dengan hal yang putih dari Allah yang Mahabesar.”

            Bandingkan diri anda dengan orang lain dan mungkin anda terlihat cantik “putih.” Tetapi jika anda membandingkan diri anda dengan Allah Mahabesar, anda akan jatuh berlutut dan berkata, “Tuhan, bermurah hatilah padaku, karena aku seorang pendosa.” Saya juga. Saya juga. 

           Dan saya berkata: pertempuran ini berlangsung sepanjang anda hidup. Ketika kita memikirkan semua dosa yang berjalan di belakang kita—dari dosa orang-orang muda sepanjang masa hingga dosa yang membanggakan diri sendiri, membenarkan diri sendiri, prestasi sendiri, hingga dosa pada masa tua seperti mengecilkan orang lain, sinisme, kritik dan kepahitan. Anda tidak pernah bisa melampaui dosa. Anda tidak akan pernah bisa melampauinya.

            Ada sesuatu yang anda geluti pada masa muda anda. Ada sesuatu yang anda geluti pada masa anda dewasa. Ada sesuatu yang anda geluti pada pertengahan usia anda. Ada sesuatu yang anda gumulkan pada masa tua anda.

            Selama anda masih hidup dalam tubuh maut ini, Roma pasal tujuh akan menjadi pengalaman anda. Dan kata-kata ini akan menjadi tangisan anda, “Oh aku manusia celaka! Kemanakah aku harus berpaling—Siapakah yang dapat melepaskan aku dari tubuh maut ini?”

           Saya tidak dapat mengkhotbahkan hal ini secara keseluruhan pada malam hari ini. Saya telah memulainya dan saya akan menyelesaikannya pada Minggu yang akan datang.

            “Aku manusia celaka—Aku manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Sepanjang saya hidup di dalamnya—dalam rumah penderitaan ini, dalam ujian dosa ini, aku akan tetap bergumul. “Aku manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?”

            Tetapi di sana ada sebuah jawaban: “Syukur kepada Allah!Oleh Yesus Kristus Tuhan kita”—kelepasan datang melalui Yesus Tuhan kita. Ini adalah sebuah karunia dari Allah, bukan karena kekuatan yang ada di dalamku, bukan karena pendidikan, bukan karena kuasa. Itu hanya karena kekuatan dan kemuliaan serta kebenaran dari Yesus Kristus.

            “Aku bersyukur kepada Allah oleh Yesus Kristus Tuhan kita.” Bahwa Dia membuat orang tuli mendengar. Bahwa Dia yang membuat orang buta melihat. Bahwa Dia yang menyembuhkan penyakit kusta. Bahwa Dia yang membangkitkan orang mati. Dan Dia  dapat melakukan hal itu, menyentuh kehidupan manusia dan mengubahnya. “Aku bersyukur kepada Allah oleh Yesus Kristus Tuhan kita,” sampai selama-lamanya.

            Dan malam ini kami meminta anda untuk datang kepada Yesus Kristus. Bahwa Dia dapat menjangkau ke dalam bagian yang terdalam dari kehidupan manusia dan mengubahnya. Dia tidak akan pernah membiarkan kita jatuh. Dia senantiasa memperhatikan anda. Dan jika anda merasakannya katakan “Tuhan, saya tidak setara terhadap hal ini,”  ingatlah bahwa anda menempatkan kehidupan anda ke dalam tanganNya. Dia akan memegang anda dan memelihara anda

            Maukah anda maju ke depan malam ini? “Pendeta, saya datang.” Di manapun anda datanglah. Dari atas balkon atau dari lantai bawah, datanglah. “Pendeta , ini saya datang bersama dengan istri saya dan keluarga saya.” Atau hanya salah seorang dari anda, mari datanglah.

Sebagaimana Allah berbicara dalam hati anda, datanglah sekarang, sementara kita berdiri dan menyanyi.

 

 

Alih bahasa: Wisma Pandia