NABI YESAYA

oleh Dr. W. A. Criswell
February 9, 1975
diterjemahkan Dr. Edi Purwanto

Saya pernah mulai berkhotbah dari kitab Kejadian dan mengkhotbahkan sampai akhir Kitab Wahyu dalam periode waktu selama tujuh belas tahun dan delapan bulan. Di mana saya berhenti di hari Minggu pagi, kemudian melanjutkannya pada kebaktian Minggu malam dan demikianlah seterusnya sampai selesainya keseluruhan isi Alkitab. Ketika saya sampai di penghujung Kitab Wahyu, saya pernah ditanya, “Apa yang sekarang akan Anda khotbahkan?”

Saya berkata, “Selama bertahun-tahun, sudah ada di dalam hati saya untuk kembali ke beberapa kitab di dalam Alkitab yang mana telah kita lalui demikian tergesa-gesanya dan begitu singkat, maka kita harus kembali mempelajarinya secara mendalam dan mempersiapkan khotbah-khotbah yang lebih mendalam.” 

Jadi, itulah yang telah saya lakukan sejak saat saya mengkhotbahkan kebenaran dari Alkitab. Saya telah berkhotbah dari seluruh kitab Daniel, dan ada empat volume khotbah yang telah diterbitkan dari seri khotbah yang telah saya sampaikan dari Kitab Daniel. Baru-baru ini saya juga telah menyelesaikan khotbah ekspositori dari Surat-Surat Umun: Surat Yakobus, Surat  I & II Petrus, Surat I, II, III Yohannes, dan Surat Yudas.

Akan tetapi impian hati saya yang paling besar sejak bertahun-tahun yang lalu adalah hari yang akan datang di mana saya dapat merasakan bahwa saya akan mencoba untuk kembali berkhotbah pasal demi pasal dari seluruh Kitab Yesaya. Itu merupakan tugas yang menakjubkan. Rasanya seperti sedang berdiri di depan seluruh ciptaan Tuhan, dan apa yang Anda lakukan  selain berada dalam rasa kagum dan terpesona melihat semuanya itu?

Para pengkhotbah selalu mencoba hal yang mustahil. Hal itu merupakan sifat alami dari jabatannya. Hal itu merupakan kebutuhan yang telah diberikan kepadanya. Inilah contoh yang ada di hadapan kita sekarang. Bagaimana bisa, seseorang dapat menjadi sama dengan begitu besarnya tugas yang diberikan, begitu tinggi skalanya dan begitu dalam kedalamannya untuk dipahami? Akan tetapi Tuhan Allah telah memanggil kita untuk maksud itu, dan hanya Dia yang dapat membuat kita cukup dan pantas untuk hal tersebut.

Ketika kita memulai pelajaran kita mengenai Yesaya, pertama kita akan merasa heran, merasa terkejut tentang betapa sedikitnya yang kita ketahui mengenai nabi tersebut. Lalu kemudian melihatnya lebih dekat lagi, kita melihat bahwa dunia mengetahui sedikit sekali tentang hamba Allah yang agung tersebut.

Kita memikirkan tentang banyaknya orang yang mengingat Shakespeare, seorang jenius yang tersohor yang pernah dimiliki oleh negara-negara berhasa Inggris. Akan tetapi ketika Anda mulai belajar tentang Shakespeare, Anda menyadari bahwa Anda bahkan tidak mengetahui bagaimana mengeja namanya. Terdapat perdebatan bahkan tentang bagaimana mengeja namanya. Ada beberapa sarjana terkenal yang menyangkal bahwa dia pernah hidup  atau pernah ada. Ada beberapa dari antara mereka yang menghubungkan dramanya dengan Christopher Marlowe.  Ada yang lain lagi yang mengatakan bahwa Francis Bacon sesungguhnya yang menulis karya-karya itu. Pada kenyataannya kita tidak mengetahui apapun juga mengenai Shakespeare, seorang jenius yang tersohor itu.

Kita bahkan mengetahui lebih sedikit lagi tentang Dante, penyair yang tiada duanya dalam bahasa Italia dan negeri Italia. Sudah tentu kita sama sekali tidak mengetahui apapun juga tentang penyair dari masa lalu yang bernama Homer. Kita bahkan tidak mengetahui kapan dia dilahirkan. Kita bahkan tidak mengetahui bagaimana ia menjalani hidupnya, atau bagaimana dia dapat menuliskan apa yang telah dituliskannya. Bukankah menjadi hal yang mengagumkan dan menakjubkan: betapa sedikitnya yang kita ketahui mengenai orang-orang masyur itu? 

Demikian juga dengan para nabi. Ketika kita melihat ke dalam isi Kitab Suci, kita melihat gambar dan penjelasan serta penyajian dari tokoh agung seperti Abraham atau seperti Yakub/ Israel atau seperti Yusuf, akan tetapi ketika kita berbicara tentang para nabi,  misalnya tentang Amos, Hosea, dan Yesaya, kita hampir tidak mengetahui apapun juga mengenai mereka. Pasti ada beberapa alasan untuk itu, dan jawabannya bisa saja seperti ini: Dalam pemeliharaan Tuhan Allah yang baik dan dalam kehendak Tuhan Allah, Tuhan telah menyembunyikan orang-orang itu di dalam kabut. Dia telah menyelubungi sosok dan bentuknya. Dia telah menggambarkan sedikit dari sirkulum serta keadaan sekitarnya agar suara itu dapat didengarkan, dan bukan untuk melihat orang yang menyampaikannya. 

Demikian juga halnya dengan Yesaya. Tetapi betapa sedikitnya yang kita ketahui tentang dia, kita akan melihatnya pada kesempatan hari ini.

I. Yesaya Berasal dari Peradaban Kota

Yesaya adalah seorang pria yang berasal dari kota. Dia adalah seorang penduduk kota. Seluruh hidup dijalaninya di kota. Dia lahir di kota. Dia bekerja di kota itu. Dia mencintai kota itu. Tugas pelayanannya yang panjang – sekitar lebih dari lima puluh tahun – dihabiskannya di kota tersebut. Kemungkinan mulai dari sekitar tahun 750 SM - 700 SM. Yesaya, sang Penegkhotbah Istan aini menyampaikan nubuat-nubuatnya serta pesan-pesannya di ibu kota. Figurnya serta referensinya bersama dengan perumpamaan hebatnya yang puitis diambil dari kehidupan kota.

Amos adalah seorang pria yang berasal dari pedesaan. Bau badannya seperti bau orang yang baru saja membajak tanah. Kata-kata kiasannya berasal dari padang dan kawanan ternak. Akan tetapi kata-kata kiasan yang telah kita baca di dalam Kitab Yesaya diambil dari kehidupan kota. Dia adalah seorang pendeta istana, seorang pelayan kota. Dia adalah orang pertama dalam deretan panjang para pengkhotbah kota besar terkenal lainnya. Misalnya, Yeremia dari Anathoth dan Yerusalem, Paulus dari kota Efesus dan Korintus dan Roma, Ignatius dari kota Antiokia, John Chrysostom dari Konstantinopel, Savonarola dari kota Florence, John Calvin dari Jenewa, atau John Knox dari Edinburgh, atau Spurgeon dari London, atau Phillips Brooks dari kota Boston, atau T. DeWitt Talmage dari kota Brooklyn, atau Dwight L. Moody dari Chicago, atau George W. Truett dari kota Dallas. 

II. Yesaya Berasal Dari Keluarga Istana

Yesaya adalah orang pertama dari deretan panjang para pengkhotbah kota yang berpengaruh. Dia adalah seseorang yang berasal dari peradaban dan kebudayaan yang luar biasa. Dia terlahir sebagai seorang aristokrat, itu terlihat dalam perilaku dan cara bicaranya. Terdapat banyak tradisi yang mengatakan bahwa bapanya, yang bernama Amos adalah saudara dari Raja Amazia, ayah dari Raja Uzia. Jadi Yesaya adalah sepupu dari Raja Uzia. Itu sebabnya mengapa ketika kita melihat Yesaya pasal 6, pemuda pemuda tersebut begitu terpukul dan sangat berduka, ketika dia melihat penglihatan yang agung pada hari-hari kematian Raja Uzia. Mereka masih sepupuan.

Dia dibesarkan dalam lingkaran istana dan pemerintahan tertinggi. Dia memiliki akses kapan saja kepada sang raja. Dia mengetahui dengan baik hal-hal mengenai keimamatan, dan dia terbiasa dengan kehidupan dari kelas atas. Dia berjalan dengan wibawa dan dikenal dari antara orang-orang hebat serta berkuasa yang memimpin negeri itu.

Dia bertumbuh pada zaman yang penuh dengan kekayaan dan kemakmuran. Raja Uzia memerintah Yehuda, sementara Raja Yerobeam II memerintah Israel, Kerajaan Utara, membawa rakyat mereka kepada kejayaan ekonomi dan kemakmuran politis tertinggi. Mereka menyamai kekuasaan serta kejayaan kerajaan yang Bersatu di bawah pemerintahan Raja Daud dan Raja Salomo. Tentu saja bersama dengan kekayaan dan kemakmuran serta kekuatan negeri tersebut, terdapat sifat-sifat kurang baik yang tidak terelakkan yang menyertainya, dan Yesaya hidup untuk menyaksikan kemerosotan serta kemunduran rakyat dan negara itu.

Pada saat saya membaca kitab itu serta melihat pada latar belakang kehidupannya, saya memikirkan Amerika. Betapa agungnya Tuhan Allah telah membuat bangsa kita. Dengan kekayaan serta kemakmuran yang telah dikaruniakan-Nya kepada kita, dan meskipun sumber dari kemerosotan kita serta pelacuran, kekerasan, pemberontakan ada di dalam kekayaan serta kemakmuran kita. Saya meragukan apakah di sana ada seorang yang berpengetahuan hari ini, selain orang yang memikirkan hal yang salah tentang anak-anak muda pada generasi kita, bahwa mereka tidak pernah mengenal hal lain kecuali kelimpahan dan kemakmuran.

Demikianlah di zaman nabi Yesaya. Dia hidup untuk menyaksikan kelimpahan dan kemakmuran mereka membawa kebinasaan serta kemerosotan bangsa itu. Demikianlah Yesaya berjalan berkeliling dengan mengenakan pakaian bulu binatang seperti nabi Elia dan seperti Yohannes Pembaptis, berseru kepada rakyat untuk berbalik kepada Tuhan Allah serta untuk bertobat. Selama tiga tahun lamanya Yesaya berjalan di sepanjang jalanan kota Yerusalem tanpa mengenakan pakaian, kecuali untuk celana dalam. Yaitu, berpakaian layaknya seorang budak – tidak mengenakan kasut, tidak mengenakan pakaian – sehingga dia dapat menyampaikan nubuat dari Firman Tuhan tentang datangnya masa pembuangan serta perbudakan.
 
Keluarga Yesaya adalah satu bagian dari pesannya serta tugas pelayanan kenabiannya bagi bangsa itu. Dia menyebutkan istrinya sebagai seorang nabiah, sungguh suatu tindakan yang menunjukkan rasa kasih sayang. Bukan bahwa wanita itu menyampaikan nubuatan dari Tuhan, akan tetapi seperti yang mungkin akan saudara istilahkan, “Ny. Pendeta,” atau “Ny. Pengkhotbah.” Akan tetapi dia menyebutkannya sebagai nabiah. 

Putra-putranya yang telah lahir, nama-nama putranya membawa pesan akan nubuat yang disampaikannya. Sebagai contoh, putra pertamanya yang bernama Shear-jashub, yang berarti, “Suatu sisa yang akan kembali.”  Ketika hukuman dari Tuhan Allah dijatuhkan kepada satu bangsa dan suku bangsa, Tuhan Allah akan menyisakan sedikit sisa-sisa. Dia memberikan nama kepada putra pertamanya dan membawanya untuk menemui raja Ahaz. Anak laki-laki itu dinamai sebagai bagian dari pesan nubuatan dari hamba Allah ini.

Dia memiliki satu orang putra lagi. “Dan Tuhan berkata kepadaku, ‘panggillah dia dengan nama Maher-shalal-hashbaz.’” Apa yang menjadikan alasan seseorang menamakan anak laki-lakinya dengan nama Maher-shalal-hashbaz.  Panggillah dia dengan panggilan singkat “Hash”. Kata itu bermakna “bergegas menuju mangsa, cepat merusak,” dan itu merupakan nubuat akan kedatangan bangsa Asyur yang bengis yang akan membinasakan Kerajaan Utara dan menghancurkan kota Yehuda, membungkamkan raja Hizkia dan kota Yerusalem karena sifatnya yang buruk dan akan memusnahkan mereka kalau bukan karena adanya syafaat dari orang yang beriman, Raja Hizkia yang baik itu. Demikian keluarga dari Yesaya itu sendiri menjadi bagian dari tugas pelayanan kenabian yang dilakukan oleh hamba Tuhan ini.

Bagaimana dia meninggal? Menurut tradisi tubuhnya digergaji sampai hancur berkeping-keping. Dalam kitab Ibrani 11:37, di sana disebutkan seorang saksi iman yang tubuhnya digergaji. Secara universal, menurut tradisi itu adalah nabi Yesaya. Kitab Mishnah, bagian dari kitab Talmud Yahudi, mengatakan bahwa nabi Yesaya mati sebagai seorang martir. Dia tewas dibunuh oleh Raja Manasse yang jahat. Justin Martyr berbicara tentang Yesaya yang tubuhnya digergaji hingga  hancur dengan menggunakan sebuah gergaji kayu.

Sekitar tahun 150 M, ada penyingkapan (apocalypse) Yahudi yang diberi judul, “The Assumption of Isaiah,” dan kemartirannya dengan mati digergaji diceritakan dua kali dalam penyingkapan tersebut. Hal tersebut juga dikisahkan dalam tulisan tentang kehidupan para nabi yang dituliskan oleh Epiphanius. Semua tradisi lama menjelaskan tentang kematian Yesaya, bahwa ia mati karena tubuhnya digergaji sampai hancur berkeping-keping oleh raja Manasse yang jahat itu.

III. Yesaya adalah Seorang Jenius

Nabi ini adalah seorang penyair jenius yang paling agung, yang terilhami, yang pernah hidup di dunia ini. Dibandingkan dengan Yesaya, seorang Homer atau seorang Dante atau seorang Shakespeare menjadi begitu kecil. Hampir tiada batas keagungan puisi yang dituliskan nabi  ketika ia menyatakan pesan-pesan dari Tuhan Allah Yang Mahakuasa. Dia adalah seorang penyair agung. Dia merupakan seorang sastrawan. Dia adalah seorang orator, jauh melebihi seorang Demosthenes. Zamannya dan pidato penutupnya serta penjelasannya dan perumpamaannya yang puitis sungguh indah, begitu menjulang tinggi. Dia menggunakan setiap bentuk keindahan kata puitis: aliterasi, perumpamaan, interogasi, dialog, kiasan, persamaan, paramnesia. Dia melantunkan keindahan puisi dengan luar biasa. Dalam versi Alkitab selain Alkitab versi King James, Anda akan melihat bahwa kebanyakan nubuatnya berbentuk ritme, perumpamaan, gaya dan bentuk puisi yang indah.

Dia memiliki perbendaharaan kata yang sangat kaya jauh melebihi yang pernah dikatakan oleh orang lain dalam Firman Tuhan. Misalnya, di dalam kitab Yehezkiel, di sana terdapat sebanyak 1.535 kata-kata yang berbeda; dalam seluruh kitab Mazmur, ada sebanyak 2.170 kata-kata yang berbada. Akan tetapi dalam Yesaya saja, nabi yang satu itu menggunakan 2.186 kata yang berbeda. Bahasanya, kejeniusan puitisnya datang inspirasi Ilahi dan api surgawi.

Tidak heran ketika Anda  mengunjungi Yerusalem ada sebuah monumen yang begitu indah yang diberi nama “The Shrine of the Book.” Kitab apa itu? “The Shrine of the Book.” Ketika Anda masuk ke dalam kubah itu dan melihatnya, kitab yang dimaksud adalah kitab yang dituliskan oleh nabi Yesaya, sebuah perkamen sepanjang empat belas kaki yang disalin oleh kaum Essen sekitar tahun 150 SM. Ucapan-ucapan yang membakar, perkataan-perkataan yang begitu indah, kata-kata yang kudus yang diucapkan oleh nabi besar Yesaya. 

IV. Yesaya adalah Penginjil Perjanjian Lama

Dia adalah seorang penginjil dari Perjanjian Lama. Dia adalah rasul Paulusnya Perjanjian Lama. Dia adalah orang yang berdiri sendirian serta menyatakan Injil agung akan kasih karunia dari Anak Allah sebelum datangnya Injil itu sendiri. Arti dari namanya adalah, “Tuhan adalah Keselamatan kita.” Tema pesannya adalah dibenarkan oleh iman, diselamatkan hanya dengan percaya kepada Tuhan Allah saja, dan pesannya disampaikan di dalam bentuk dan bahasa penginjilan yang begitu indah. Seolah-olah nabi Yesaya berdiri dalam bayangan Anak Allah ketika Dia berjalan menyusuri wilayah Galilea dan Yudea dan Perea dan hingga akhirnya sampai ke bukit Kalvari. Dia adalah gambaran dari kehidupan dan pelayanan serta pesan keselamatan dari Tuhan sang Penebus.

Jika seorang pendeta berdiri di atas sebuah mimbar untuk menyampaikan khotbah pada saat Natal, maka nasnya bisa jadi diambil dari kitab Yesaya: “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” Jika seseorang berdiri untuk berkhotbah pada Jumat Agung, tentang hamba yang menderita yang mati untuk dosa-dosa kita, khotbah tersebut mungkin saja didasarkan pada kitab Yesaya 53:5 “Tetapi Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, Dia diremukkan oleh karena kejahatan kita, ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita, dan oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh.” Jika pendeta itu menyampaikan khotbahnya pada hari Rabu malam tentang teologi penebusan dosa, dia dapat menggunakan perkataan-perkataan kenabian yang agung dari nabi Yesaya sebagai latar belakangnya: “Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas…” (Yes. 53:11).

Jika seseorang bersaksi di dalam nama Tuhan Allah untuk menyatakan zaman keemasan yang akan datang nanti, dia dapat menggunakan sebagai latar belakang khotbahnya pada penglihatan nabi Yesaya yang penuh dengan keagungan itu, yang telah melihat langit yang baru dan bumi yang baru, dan yang melampau maut berseru, “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” (band. Yes. 25:8)

V. Yesaya adalah Nabi Millennium

Dia adalah seorang nabi agung dari milenium itu. Dia adalah pembawa pesan mesianik Perjanjian Lama. Nabi Yesaya, dalam keagungan perumpamaan puitisnya, menggambarkan zaman keemasan seribu tahun yang akan datang kelak. Itu adalah hal yang mengagumkan, karena semua filsuf dan penyair telah berbicara mengenai zaman keemasan di masa lalu, yang lama telah berlalu.

Misalnya Plato, ia menggambarkan zaman keemasan dari umat manusia dalam bentuk, konteks dan tempat di sebuah pulau yang bernama Atlantis, yang terletak di balik gerbang Herkules, di balik Selat Gibraltar pada permukaan Samudera Atlantik yang sangat luas itu, yang sekarang telah tenggelam, benua Atlantis. Menurutnya ada peradaban serta kehidupan satu suku bangsa di benua itu dahulu kala. Plato telah menemukan zaman keemasan umat manusia yang sejak lama telah berlalu itu.

Setiap penyair Romawi–Yunani zaman dahulu membicarakan zaman keemasan sebagai zaman tanpa dosa dan kebahagian dari kisah umat manusia, di masa lalu. Akan tetapi Yesaya menaikkan suaranya, dan dalam perkataan-perkataan yang diilhami oleh Tuhan Allah di sorga, dia menjelaskan zaman keemasan itu akan datang nantinya. Masa seribu tahun di dalam mana Tuhan Allah akan datang ketika langit akan hancur berkeping-keping, dan Raja Kemuliaan akan memerintah langsung bumi yang jahat dan penduduknya, kemudian membersihkan serta mengkuduskan tempat yang indah dan kudus serta penuh dengan kebaikan itu.

Ketika nabi Yesaya, nabi Tuhan Allah itu, menggambarkan masa seribu tahun yang indah itu, dan zaman keemasan yang akan datang kelak, dia berkata bahwa zaman itu akan diwarisi oleh remnant (sisa-sisa), dan saya juga telah mempersiapkan tema untuk dibahas dengan judul, “Doktrin Tentang Remnant.” “Tidak semua akan diselamatkan,” demikian dikatakan oleh Yesaya. “Tidak semua akan sampai kepada pengetahuan akan kebenaran,” demikian dikatakan oleh Yesaya. “Tidak semua akan masuk ke dalam kerajaan itu,” demikian dikatakan oleh Yesaya, “akan tetapi hanya ada beberapa orang.” Beberapa orang akan diselamatkan. Beberapa orang akan kembali kepada iman kepercayaan kepada Tuhan. Beberapa orang akan dicabut dari api yang membakar itu, dan beberapa orang kudus (remnant) itu akan disebut sebagai umat Tuhan.

Yesaya  mengatakan bahwa mereka akan memiliki seorang Raja. Raja itu akan berasal dari garis keturunan Daud. Dia akan datang dari tunas dari tunggul Isai. Dia akan lahir dari seorang perawan, demikian dikatakan leh nabi itu. Dia akan dikaruniai dan kepada-Nya diberi kekuasaan serta dipenuhi oleh Roh Kudus Allah, dan Dia akan memerintah di dalam keindahan serta di dalam keadilan dan di dalam kebenaran.

Semangat dan perumpamaan tentang kedatangan kerajaan Mesias seribu tahun itu ditemukan di seluruh Firman Tuhan. Ditemukan di dalam protevangelium dalam kitab Kejadian, yaitu keterunan perempuan. Seperti sebelumnya, bangkitnya kemuliannya semakin bertambah terlihat di dalam diri Musa dan Daud dan Salomo. Namun hanya ketika kita sampai pada Yesaya, kita melihat keindahan pribadi-Nya, kemuliaan-Nya, serta keagungan kerajaan-Nya yang tiada bandingannya, di mana kelak  Dia akan datang dan berkuasa serta memerintah.

Apa yang saya pikirkan dalam pikiran dan hati saya? Apa yang saya pikirkan tentang nubuat-nubuatan yang penuh keagungan oleh nabi Yesaya ini? Dapatkah saya mempercayainya? Apakah bumi yang gersang dan menyedihkan ini akan menemukan keagungnya ketika Raja Agung, sang Mesias dari pemerintahan seribu tahun akan datang? Apakah mata saya akan melihat sang Penebus itu? Apakah saya akan bersama-sama berada di dalam kerajaan terakhir dan penghabisan itu? Jika saya telah dikuburkan, apakah saya akan merasakan gerakan kebangkitan, menikmati tubuh kemuliaan  dalam keabadian dan kemuliaan juga? Dapatkah hal itu terjadi? Dapatkah peristiwa itu terjadi pada Anda semua, pada kita semua? Dapatkah itu terjadi?

Apa yang harus saya lakukan adalah bahwa nabi yang mengatakan tentang masa seribu tahun yang penuh dengan keagungan Tuhan kita adalah nabi yang sama yang menggambarkan detik-detik kedatangan-Nya yang pertama kalinya, kelahiran-Nya dari kandungan seorang perawan, tugas pelayanan-Nya di antara orang yang tinggal dalam kegelapan dan alam maut, kebaikan-Nya untuk menyembuhkan orang-orang sakit, dalam melayani orang-orang miskin. Nabi yang menguraikan dengan jelas penderitaan serta kematian Anak Allah untuk penebusan dosa  (seolah-olah dia sendiri berdiri di bukit Kalvari pada saat hari yang mengerikan itu), nabi yang menjelaskan dalam istilah yang mengagumgkan tentang kedatangan Tuhan kita yang pertama kalinya adalah nabi yang sama yang menggambarkan kedatangan kembali sang Penebus/Mesias yang sama itu, dengan penuh kemuliaan, dalam keajaiban, kekudusan, kekuatan serta keindahan.
Jika saya dapat percaya bahwa nabi Yesaya menjelaskan kedatangan Tuhan kita yang pertama 750 tahun sebelum Dia dan menjelma menjadi manusia, tidak dapatkah saya juga percaya bahwa nabi yang sama juga telah melihat oleh ilham Allah tentang kedatangan-Nya kembali, kembalinya Raja yang akan mendirikan kerajaan seribu tahun-Nya di muka bumi ini, dan kelak rakyat-Nya adalah mereka yang mengasihi serta menyembah dan percaya kepada Tuhan?

Di tengah kematian serta penyakit dan kesesatan dan ketidak-berdayaan umat yang tidak memiliki pilihan lain kecuali menghadapi perbudakan dan pembuangan, kemudian ia berkata, “Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu, tenangkanlah hati Yerusalem” (Yes. 40:1-2) Kemudian ia menggambarkan kemuliaan kerajaan yang akan datang dan menasehatkan, “Seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama” (Yes. 40:5).

Kepada kita ia menggambarkan bahwa kerajaan seribu tahun itu adalah harta yang terpendam di dalam hati kita oleh janji-Nya yang kekal. Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah. Ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan dan dengan kejujuran… Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya. Allah akan menciptakan langit baru dan bumi baru dan Dia akan memerintah, namanya adalah Tuhan kebenaran kita.