PENGHAKIMAN TERAKHIR

(THE LAST JUDGMENT)

 

Dr. W. A. Criswell

 

Wahyu 20:11-15

26-08-84

 

            Ini adalah pendeta dari Gereja First Baptist Dallas yang sedang menyampaikan wahyu Allah yang sangat berkesan dan traumatik sehubungan dengan penghakiman yang terakhir, tentang takdir kita yang terakhir, jika kita menolak panggilan dari anugerah dan kasih karunia Allah. Sekarang, di hadapan Allah, semoga kita menundukkan hati dan kepala kita terhadap komitmen kita. Di dalam 2 Korintus 13:5. Tuhan kita berkata:

Ujilah dirimu sendiri, lihatlah ke dalam dirimu sendiri, test, buktikanlah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak dalam iman; Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak akan tahan uji.

 

            Tuhan yang mulia, ketika kami mempelajari subjek yang hebat ini, bukalah pikiran kami dan hati kami terhadap kebenaran dan gerakkanlah kemauan kami, kehendak kami, sehingga kami memberikan respon dalam sebuah jalan bahwa Allah dapat melindungi kami  dan menjaga kami dan mengampuni kami serta menyelamatkan kami. Tuhan, tanpa kehilangan satu orang pun, semoga kami semua dapat hadir ketika Allah membuka daftar gulungan di sorga, maka tidak seorang pun dari kami yang akan ada di hadapan takhta pengadilan dan hukuman yang hebat ini. Dan Tuhan kami, ketika kami masih tersisa selama waktu seruan dan undangan, tidak seorang pun kami yang sedang tidur, kami akan tinggal, kami akan berdoa, kami percaya akan Allah untuk sebuah pencurahan dari RohNya yang menyelamatkan. Dan kami bersyukur kepadaMu untuk setiap jiwa yang bertobat. Di dalam namaMu yang mulia, Amin.

            Pasal yang akan kita bahas terdapat dalam kitab yang terakhir dari Alkitab, yaitu Kitab Wahyu. Itu adalah cara kitab itu—“Apocalupsis…”—“penyingkapan,” “wahyu,” “pembukaan tutup” dari Yesus Kristus. Kitab Wahyu pasal dua puluh dimulai dari ayat 11—Wahyu 20, ayat 11:

Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya. Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu. Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya. Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu.

 

           Mengapakah bagian itu tidak dikhotbahkan atau jarang disebutkan? Jawabannya, adalah karena bagi sebagian orang, hal terletak di dalam sikap pengkhotbah liberal, pelayan dan professor yang berkata, “Saya tidak mempercayai perkataan itu!” Salah satu sarjana yang berbakat dan sangat terkemuka di dalam dunia teologi liberal berkata: “Jika doktrin penghukuman, jika doktrin tentang neraka, ditulis dalam pasal-pasal yang terdapat dalam lembaran-lembaran Alkitab di dunia ini, saya tidak akan mempercayainya.”

           Dan dari latar belakang teologia teologi liberal datanglah sebuah penyesatan besar di dalam bagian kekristenan yang pernah diajarkan atau diberitakan atau dirujuk kepada penghakiman yang mengerikan ini, yang memimpin kepada penghukuman dan ke dalam neraka. Yang merupakan hal terbaik bagi dia untuk disampaikan, yaitu bagi para teolog untuk disampaikan. Tetapi apakah Allah menyampaikan hal itu? Apakah itu adalah kebenaran dan penyingkapan dari Tuhan? Tidak ada penghukuman atas dosa. Tidak ada penghukuman terakhir. Tidak ada neraka. Apakah Allah menyampaikan hal yang seperti itu?  Apakah itu keyakinan seorang manusia atau apakah Allah yang menyampaikan hal itu? Ketika saya mendengarkan seorang teolog liberal yang berbicara seperti itu, saya sering berpikir tentang ular yang merupakan inkarnasi Setan yang berkata kepada orang tua kita di Taman Eden:

Ya, apakah Allah berkata bahwa jika kamu makan buah pohon ini kamu pasti akan mati? Apakah Allah mengatakan hal itu? (Kemudian kebohongan yang pertama.) Sesungguhnya engkau tidak akan mati.

 

            Itulah yang disampaikan oleh Setan. Tetapi mereka pasti mati, sama seperti yang disampaikan Allah. Akankah saya tidak kurang gemetar atau takut di hadapan pengakuan Allah ini, jika saya tidak bertobat dan beriman kepada jalan keselamatan Allah? Saya pasti akan mati.

            Seperti apakah Allah? Kelompok liberal menyangkal Firman Allah dan wahyu dari Kitab Suci ini, dan anugerah yang menyelamatkan dari Tuhan kita Yesus Kristus. Kaum Liberal berkata: “Tidak mungkin Allah yang penuh belas kasihan, yang penuh kasih dan pengampunan, akan mengijinkan salah satu ciptaanNya jatuh ke dalam neraka, ke dalam penghukuman. Allah Bapa yang penuh kelembutan dan penuh kasih tidak akan melakukan hal seperti itu.” Yang merupakan hal baik bagi mereka untuk disampaikan. Tetapi seperti apakah Allah itu sesungguhnya? Allah sama seperti KitabNya. Ini adalah  penyingkapan diri dan pewahyuan diri dari Tuhan sendiri. Dan Allah sama seperti KitabNya. Allah di dalam KitabNya, berseru kepada manusia. Dia mengutus para nabi, dan Dia mengutus para rasul, dan Dia mengutus para pengkhotbah untuk berseru kepada manusia agar bertobat dan diselamatkan. Jika mereka bertobat, jika mereka berpaling, mereka akan diberkati, sebagaimana Allah memberkati Niniwe. Allah mengampuni Niniwe. Itulah Tuhan. Tetapi jika mereka menolak untuk bertobat dan berbalik, mereka akan dihancurkan sama seperti Yerusalem yang telah dihancurkan. Itulah Allah. Allah melakukan hal itu! 

            Seperrti apakah Allah? Allah sama seperti hukumNya. Seluruh alam semesta yang berada di atas kita, di bawah kita, di sekitar kita yang diatur oleh hukum Allah. Allah sama seperti hukumNya. Ada hukum di mana-mana. Ada hukum fisika. Ada hukum rohani. Ada hukum materi. Ada hukum di langit. Ada hukum di bumi. Ada hukum api. Ada hukum gravitasi. Ada hukum di mana-mana. Dan jika kita mengatur hidup kita dan membentuk hidup kita berdasarkan hukum Allah, kita diberkati: Hukum tentang tuaian (Hukum menabur benih, hukum menuai), hukum tentang kesehatan dan kekuatan.

            Jika kita mematuhi hukum-hukum ini, kita diberkati. Tetapi jika kita tidak mentaati hukum-hukum itu, ada sebuah bencana, kegagalan yang menanti kita. Saya akan memberikan ilustrasi yang dinamik dan traumatik tentang hal itu dalam sebuah cara yang mengerikan. Karena pengajaran Firman Allah, bahwa itu merupakan sebuah kesalahan bagi seorang pria untuk memiliki hubungan seksual dengan pria yang lainnya, dan merupakan kesalahan bagi seorang wanita untuk memiliki keintiman seksual dengan wanita lainnya, karena pengajaran dari Firman Allah, penyakit AIDS telah dibasmi dari dunia ini. Penyakit itu tidak pernah dikenal. Penyakit itu tidak pernah didengar sebelumnya. Penyakit itu telah menghilang dari permukaan planet ciptaan Allah.   

            Di masa kita, kita menolak Firman Allah, menertawai ide puritan yang sudah tua ini dan membangkitkan masyarakat yang menginjinkan lesbiah dan sodomi serta homoseksual. Kemudian hukuman yang mengerikan dari dosa dan penyakit AIDS ini mengejutkan dan menakutkan dunia. 

            Tidak ada sebuah contoh ketika anda mengepalkan tinju anda di hadapan wajah Allah Yang Mahatinggi dan tidak menerima hukuman yang mengerikan. Allah sama seperti hukumNya. Allah melakukan hal itu. Kitab Ibrani pasal dua belas berkata, “Allah kita adalah api yang menghanguskan.” Dan ketika saya membaca tentang sodomi dalam Sodom dan Gomora, saya melihat apa yang mrenghanguskan dan murka yang dicurahkan Allah dari sorga, dan hal itu menakutkan saya. Ya Allah, berbelas kasihanlah atas umatMu!

            Seperti apakah Allah? Dia tidak hanya seperti KitabNya (wahyu tentang diriNya); Dia tidak hanya seperti hukumNya, (Dia yang membuatNya). Ketika kita menyelidikinya, kita diberkati. Ketika kita melanggarnya, kita dikutuk. Allah sama seperti AnakNya. AnakNya datang ke dunia ini untuk menunjukkan seperti apakah BapaNya. Tinggal di antara kita, berjalan di antara kita. Kita dapat menyentuhNya dan mendengarNya. Inilah Allah. 

            Seperti apakah Allah? AnakNya! Ketika kita mendengarkan AnakNya, Dia menyampaikan kata-kata yang mulia dan berkat serta pengampunan. Akhirnya, di dalam kasihNya, mati bagi kita, dan bahkan pada hari ini, memohon untuk kita sebagai pengantara, menjadi mediator di dalam sorga. Tetapi Anak Allah juga yang mengajarkan bagi kita, sehingga kita mengenal tentang penghukuman dan neraka. Yesuslah yang sering berbicara tentang konfrontasi yang menakutkan dan mengerikan pada saat takhta penghakiman dari Allah Yang Mahatinggi. 

           Di dalam Kitab Lukas pasal enam belas, Dia memberitahukan tentang penderitaan tempat orang kaya itu dilemparkan. Di dalam Injil Matius pasal dua puluh tiga, Dia berbicara tentang hukuman Allah yang mengerikan atas orang-orang yang memimpin bangsa Israel ke dalam bencana. Di dalam pasal dua puluh empat yang baru saja anda baca, “Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal.” Apakah anda mengingat bagaimana Injil Yohanes pasal tiga ditutup? Itu adalah pasal yang sangat indah yang berbicara tentang apa yang telah dilakukan Allah untuk menyelamatkan kita. Yohanes 3:14:

Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.

 

Itu adalah pasal terbesar tentang kasih dan pengampunan dan keselamatan di dalam Alkitab. Apakah anda mengingat bagaimana kitab itu diakhiri? Ini adalah cara bagaimana kitab itu diakhiri:

Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.

 

Juruselamat yang sama datang ke dalam dunia ini untuk mati bagi kita adalah Juruselamat yang berbicara tentang penghakiman yang mengerikan yang kita hadapi di dalam dosa-dosa kita yang tidak diampuni.

            Saya sering berpikir: “Mengapakah Tuhan Allah itu datang ke dalam dunia ini dengan berinkarnasi?” Apa yang akan anda sampaikan adalah tujuanNya? Semua pelayan liberal dan professor mereka berkata bahwa Dia datang ke dunia ini untuk mengajar kita agar menjadi baik, untuk menjadi model terbesar dari kebaikan dan kemurahan dan kasih dan menonjolkan diri serta semua kebajikan yang membesarkan ide tentang kepahlawanan manusia. Itulah sebabnya mengapa Dia datang.

            Saudaraku, biarkan saya menyampaikan kepada anda kebenaran yang sejujurnya dan saya tidak membesar-besarkannya. Ratusan tahun sebelum kedatangan Tuhan kita, ada agama-agama besar yang datang ke dunia yang mengajarkan kepada kita bagaimana untuk menjadi baik. Agama Zoroaster, agama Budha, Konfosius, dan agama-agama besar lainnya berkata bahwa kita harus menjadi baik. Musa hidup sebelum Kristus, dia mengajar supaya kita menjadi baik. Tuhan kita tidak pernah datang ke dunia ini untuk mengajar bagaimana supaya kita menjadi baik. Tuhan kita datang ke dunia ini supaya kita diselamatkan dari dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari hukuman dan penghakiman, serta neraka. Dia datang untuk mati sebagai pengganti kita sehingga di dalam Dia, kita memiliki hidup yang kekal. Allah sama seperti anakNya.

            Allah sama seperti seorang Bapa—seorang Bapa yang mengasihi. Tidak ada kitab yang lebih manis di dalam Alkitab dibandingkan dengan Mazmur 103: “Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.”  Sekarang, anda lihatlah ke dalam pasal tersebut: Ada tiga tempat di sini yang berbicara tentang Allah Bapa yang penuh dengan kemurahan.

Lihat di dalam ayat: “Tuhan adalah penyayang dan pengasih.”

Lihat di dalam ayat yang sama lagi: “Panjang sabar dan berlimpah kasih setia.”

Lihat lagi di dalam ayat 11: “Tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia.” 

Lihat dalam ayat 17: “Tetapi kasih setia Tuhan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu.” 

            Kemurahan Tuhan: Allah sama seperti seorang Bapa dan Dia bertindak dalam kemurahan terhadap anak-anakNya. Sekarang, anda beritahukanlah kepada saya, dapatkah anda memikirkan sebuah hal yang kejam atau keji bahwa Allah Bapa kita dapat melakukan hal ini, bahwa di sana ada sesuatu yang menunggu kita dan konfrontasi tentang neraka dan penghukuman dan Dia tidak memberitahukan kita, Dia tidak memperingatkan kita? Itu adalah sebuah bagian dari kemurahan Allah dan kasih Allah, bahwa Dia berbicara kepada kita tentang hukuman yang mengerikan ini dan yang menunggu kita di dalam dosa-dosa kita yang tidak diampuni.

            Beritahukanlah saya, jika ada sebuah jembatan yang keluar dari jalan raya, dan mobil-mobil ini, melampaui batas kecepatan pada jalan itu. Beritahukan kepada saya,  apakah departemen jalan raya akan menempatkan sebuah rintangan dan sebuah tanda yang berkata “Jembatan keluar. Bahaya,” merupakan departemen yang kejam atau hanya memperingatkan kita tentang bahaya mengerikan yang menanti kita? Apakah itu merupakan ketidak-adilan atau kekejaman yang menjadi bagian departemen jalan raya untuk menempatkan sebuah rintangan di sana dengan tanda, “Jangan melintasi batas ini?” Di dalam Alkitab, Saya diberitahukan, di dalam Perjanjian Baru, ada seratus dua puluh wahyu berkaitan dengan neraka dan penghukuman. Itu adalah hal yang sama dengan jalan raya, melampaui batas kecepatan jalan raya hidup ini, ada seratus dua puluh tanda yang Allah letakkan di sini yang berkata: “Jalan ini menuju neraka.” Dengarkanlah! Perhatikanlah itu! Itu adalah sebuah kemurahan dari Allah. 

            Beritahukan lagi kepada saya; jika sebuah perusahaan kereta api meletakkan sebuah tanda lampu merah di atas sebuah perlintasan, apakah perusahaan itu yang kejam atau benci terhadap kita dengan meletakkan tanda-tanda itu? Bukanlah itu merupakan sebuah bagian dari kebaikan dan kemurahan serta peringatan—kemurahan dari perusahaan kereta api yang meletakkan tanda lampu merah yang berkata bahwa ada bahaya yang datang melintasi jalur itu? Bukankah itu benar?

            Ambillah contoh tentang seorang dokter—apakah dia merupakan seorang dokter yang baik atau seorang dokter yang tidak berbelas kasihan  ketika dia berkata: “Cara ini membuat anda tetap sehat atau atau anda akan kehilangan kesehatan anda. Jangan melakukan hal-hal ini atau lakukanlah hal-hal ini.” Bukankah itu merupakan kebaikan dan kemurahan Allah yang menuntun dokter untuk melakukan hal itu. Dan sama seperti kebaikan dan kemurahan Allah yang menyingkapkan kepada kita tentang hukuman yang mengerikan ini yang menanti kita jika dosa-dosa kita tidak diampuni.

            Kemudian saya berpaling ke dalam Kitab Wahyu ini—penyingkapan, wahyu dari Yesus Kristus—dan saya diberitahukan di sini bahwa ini adalah bagian yang terakhir, pasal terakhir di dalam waktu. Pasal berikutnya memulai kekekalan. Dan peristiwa yang terakhir, kejadian terakhir, perkembangan terakhir di dalam sejarah, adalah Penghakiman Takhta Putih yang terakhir. Ini adalah akhir dari sejarah manusia, akhir dari peradaban, budaya, kehidupan dan segala sesuatu yang kita ketahui. Ini adalah akhir dari dunia.

Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya.

 

            Mengapakah hal itu menjadi akhir dari waktu? Menjadi saat terakhir? Mengapakah penghakiman yang terakhir ini merupakan akhir dari sejarah? Karena kehidupan manusia dan pengaruh yang dia hasilkan tidak berhenti ketika dia mati. Dia hidup, dan terus berlanjut. Anda tidak akan memiliki penghakiman yang terakhir berdasarkan perbuatan manusia ketika dia meninggal, karena perbuatannya terus berlajut.

            Secara traumatis dan dramatis bayangkanlah tentang Karl Marx—manusia terkutuk, seorang atheis, yang kafir, dan seorang pembenci Allah—Karl Marx.  Pada tahun 1847 dia menulis karyanya Communist Manifesto.  Tetapi selama bertahun-tahun sesudah itu—dan saya melihat usaha itu hingga masa depan—kedurhakaan yang dilakukan oleh Karl Marx merupakan sebuah kutukan bagi seluruh keluarga di dunia. Dan kita menuai hal itu setiap hari di dalam kehidupan kita. Dan Allah menuliskan hal itu di dalam KitabNya. Karl Marx tidak mati di akhir abad sembilan belas. Karl Marx dan ajaran komunisnya terus hidup hingga hari ini. Dan akan tetap hidup hingga akhir waktu ketika Allah membuka kitab itu dan membacakan perbuatan dari Karl Marx, penghukuman Allah atas kesesatan, penghukuman Allah atas orang kafir dan atheis.

            Apakah anda pernah berada di Jerman? Apakah anda melihat tembok Berlin itu? Apakah anda melihat pembagian rakyat dan bangsa Jerman? Apakah anda melihat delapan belas juta kuburan yang ditimbulkan oleh satu orang yang bernama Hitler? Adolf Hitler melakukan bunuh diri pada tahun 1945, tetapi hidupnya tidak berakhir. Masih terus berlanjut hingga hari ini. Itu adalah sebuah tragedi pada akhir zaman, Allah akan menghakimi segala perbuatan yang telah dia lakukan. Seluruh kehidupan sama seperti itu. Hal itu terus berlanjut. Hidup anda terus berlanjut. Ada orang-orang yang anda pengaruhi. Ada hal-hal yang telah anda lakukan dan memberikan pengaruh bagi orang-orang, dan hanya Allah yang dapat menyingkapkan skema itu dan terjadi pada akhir zaman, di akhir peradaban, di akhir umat manusia dan akhir dari sejarah, itulah hari penghakiman yang besar itu.

            Lihat lagi: di situ disebutkan bahwa takhta putih yang besar  telah ditempatkan dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya.  Saya mengetahui dari hal itu, bahwa ini adalah Takhta Putih Penghakiman yang terakhir, yang merupakan akhir sejarah, antara pembinasaan bumi dan penciptaan kembali bumi baru dan langit yang baru. Hal itu disampaikan dalam 2 Petrus 3 ayat 10 dan 12 bahwa:

Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api dan bumi dan segala yang diatasnya akan hilang lenyap.

 

            Seluruh alam semesta akan terbakar habis. Samudera terbuat dari hidrogen dan H2-Oksigen, dan ketika anda memisahkan keduanya akan terjadi kebakaran. Seluruh stuktur lautan akan berubah menjadi bensin. Dan gua-gua besar di bawah bumi ini di mana panasnya sangat tinggi sehingga batu-batu mencair, itu adalah lava, batu cair panas dari bumi yang terbakar, segala sesuatu akan menjadi unsur-unsur api dan terbakar di hadapan Allah ketika Tuhan membersihkan dan memurnikan bumi ini.

            Disampaikan di dalam Wahyu pasal enam ini bahwa “Sebab sudah tiba hari besar murkaNya dan sipakah yang dapat tahan?” Seluruh bumi akan terbakar dan seluruh ciptaan akan dipenuhi nyala api, ketika Tuhan datang di akhir dunia ini. Dan Penghakiman Takhta Putih ini berlangsung  setelah dunia dibinasakan dan sebelum penciptaan dunia yaitu di dalam Kitab Wahyu pasal dua puluh satu. Ini akan terjadi di antara dua peristiwa yang besar, bahwa di antara keduanya—2 Petrus 3:10-12 dan Wahyu 21:1—antara kedua hal akan ada sebuah pengadilan universal.

            Dan Allah, Sang Hakim, Tuhan Allah, Yesus Sang Hakim, akan duduk di atas takhta itu. Dan di hadapanNya, akan dibawa orang-orang berdosa yang pernah hidup, setiap pria dan wanita yang terhilang yang pernah lahir. Mereka akan dibawa ke hadapan takhta itu. Dan para penjahat akan dibawa ke hadapan Hakim. Kita semua akan berada di sana. Orang-orang yang mati di dalam kesalahan dan dosa-dosa akan dibangkitkan dari dalam laut, dibangkitkan dari dalam kuburan, dibangkitkan dari dalam bumi, semua akan berada di hadapan Hakim Agung dari seluruh bumi. Dan kita akan berdiri, di situ disebutkan, kita akan berdiri besar dan kecil di hadapan Allah yang duduk di atas takhta.

            Suatu kali di dalam hidup saya, saya berdiri di belakang dan di samping seseorang yang dipanggil di hadapan seorang hakim federal. Hakim federal berkata kepadanya, “Sekarang anda dipersilahkan untuk berdiri dan mendekat ke hadapan meja persidangan untuk dihukum.” Dia adalah anggota dari jemaat kami. Dia adalah seorang banker. Dia dihukum karena melakukan korupsi di bank, mencuri uang dari orang-orang yang menyimpan uang di bank. Dan setelah di dakwa serta dihukum, hakim federal berkata, “Sekarang anda berdiri dan mendekat ke depan meja sidang untuk dihukum.” 

           Dan dia meminta saya, agar saya dapat berdiri dibelakangnya di dalam masa yang hebat itu. Dan saya berdiri di sebelah kanan belakangnya. Dan dia berdiri di hadapan hakim. Dan hakim menjatuhkan hukuman atas dia. Seperti itulah yang disampaikan di sini. Setiap orang dari kita akan berdiri di hadapan Hakim Agung. Nama kita akan diapnggil. Dan kita akan dinagkitkan dari dalam kuburan, dari dalam laut, dari dalam bumi, dari Hades, dari nyala api, untuk berdiri di hadapan Hakim dari seluruh bumi. Di bawah sini, di dalam nyala api, di dalam Hades, tempat bagi orang yang telah meninggal, bagi orang-orang yang terhilang ketika mereka meninggal mereka akan pergi ke sana, dan di bawah sana mereka akan berseru. Orang kaya itu berseru, “Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku.”  Mereka berseru di bawah sini, di dunia lain dari Hades, tempat bagi orang yang telah meninggal, tempat di mana mereka dipenjarakan, seperti para malaikat, yang sedang menunggu hari besar penghakiman Allah.

           Dan anda tahu, ketika saya membaca bagian yang ada di sini tentang Penghakiman Takhta Putih itu, di sana ada sebuah keheningan yang luar biasa. Tidak ada petunjuk tentang adanya sebuah tangisan atau perkataan dari orang-orang yang menerima hukuman, orang-orang yang didakwa, tidak ada satu pun. Ada sebuah keheningan yang luar biasa. Mereka datang satu demi satu, dari kegelapan Hades dan api yang menyala-nyala, dan mereka berdiri di hadapan Allah untuk dijatuhi hukuman di dalam keheningan yang absolut. 

           Apakah anda memperhatikan hal lain yang ada di sini? Di sini disebutkan dua kali: “Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan.” Dan kemudian hal itu diulang kembali. Dan pencarian di lakukan di dalam kitab itu untuk melihat apakah mereka menemukan nama pria ini atau wanita ini yang didakwa di hadapan Allah. Mereka menyelidiki Kitab Kehidupan. Saya berpikir bahwa hal itu memiliki makna; Agar jangan ada kegagalan dalam pengadilan, dan agar jangan ada kesalahan, Tuhan Allah berkata kepada malaikat pencatat: “Selidikilah Kitab Kehidupan, untuk melihat apakah engkau menemukan nama orang ini di dalam Kitab Kehidupan, lakukanlah pencarian di dalam kitab itu.”  

            Dan malaikat pencatat menyelidiki lembaran-lembaran Kitab Kehidupan dan melaporkan: “Yang Mulia, saya tidak menemukan namanya. Tidak ada masa ketika berpaling, ketika dia bertobat, ketika dia menyerahkan hidup untuk percaya dan beriman kepada Yesus. Saya tidak dapat menemukan namanya.”

            Dan Tuhan Allah berkata kepada pria yang didakwa itu, kepada wanita yang didakwa itu: “Aku ingat,” kata Tuhan Allah, “Aku ingat ketika Aku menggerakkan ibumu untuk membuat permohonan kepadamu sehingga kamu menyerahkan hatimu kepada Yesus. Lalu, apa yang telah kamu lakukan?”

            Dan pendosa yang terhilang menjawab: “Yang Mulia, saya menolak untuk mendengarkan ibu saya.”

           Dan Tuhan Allah, Sang Hakim berkata: “Aku ingat bahwa Aku telah meletakkan sebuah gereja di jalan kamu dan di kota kamu dengan sebuah menara yang menunjuk kepadaKu di sorga. Lalu, apa yang telah kamu lakukan?”  

            Dan pendosa yang terhilang menjawab: “Aku hanya melewatinya saja.”

            Dan Tuhan Allah berkata kepada pendosa yang dihukum itu: “Aku ingat bahwa Aku mengajarkan dan menggerakkan seorang guru Sekolah Minggu untuk memberitahukan kepadamu, tentang bagaimana menjadi selamat. Lalu apa yang telah kamu lakukan?” 

            Dan pendosa itu berkata: “Yang Mulia, saya menolak untuk mendengarkannya.”

            Dan Tuhan Allah berkata: “Aku ingat bahwa Aku telah mengirim pengkhotbah itu dan dia telah membuka kitab di dalam Kitab Wahyu pasal dua puluh pada tanggal dua puluh enam Agustus 1984, dan Aku meletakkan sebuah penjelasan  firman dari KitabKu di dalam hatinya dan dia telah berkhotbah kepadamu untuk bertobat dan menjadi selamat. Lalu apa yang telah kamu lakukan?”

            Dan pendosa yang terhilang itu berkata: “Saya keluar dari pintu gereja itu sama seperti ketika saya datang di dalam penolakan terhadap kasih karunia dan panggilan Allah.”

           Dan Tuhan Allah berkata kepada pendosa yang terhilang itu: “Aku ingat bahwa Aku telah mengirim Roh KudusKu ke dalam hatimu dan membuat seruan kepadamu untuk berpaling dan percaya dan menjadi selamat. Lalu, apa yang telah kamu lakukan?”  

            Dan pendosa yang terhilang berkata: “Tuhan Allah, saya menolak Roh Kudus, dan mengeraskan hati terhadap seruan Roh Kudus dan saya berkata ‘tidak’ terhadap undanganNya. Dan saya keluar dari pintu itu sama seperti ketika saya masuk ke dalam, dalam sikap penolakan terhadap Allah. Saya berkata, tidak! Saya tidak akan berpaling! Saya tidak akan menerima! Saya tidak akan bertobat! Saya tidak akan percaya!” 

            “Dan kitab itu ditutup.” Itulah yang disampaikan. “Dan kitab itu ditutup.” Malaikat berkata, “Yang Mulia, aku tidak dapat menemukan namanya, tidak ada waktu di mana dia pernah berpaling. Tidak pernah ada waktu di mana dia bertobat. Tidak pernah ada suatu waktu di mana dia datang menelusuri lorong bangku. Tidak pernah ada suatu waktu di mana dia menerima Yesus sebagai Juruselamat. Tidak pernah ada suatu waktu di mana dia berdoa dan meminta Allah untuk berbelas kasihan dan menyelamatkan dia.”

            Dan malaikat pencatat tidak mencatat namanya. Dan pengadilan itu ditutup. Dan kitab itu ditutup. Dan kitab itu ditutup. Dan gerbang ditutup. Dan pintu ditutup. Dan kehidupan ditutup. Dan kesempatan ditutup. Dan dia masuk ke dalam dunia hukuman ini, dan neraka yang menyala-nyala dan kegelapan sampai selama-lamanya. 

           Apakah anda megingat kisah Air Bah? Siapa yang menutup pintu ketika Nuh dan keluarganya masuk ke dalam? Alkitab berkata bahwa Allah yang menutup pintu itu. Dan hukuman atas air bah dijatuhkan. Allahlah yang menutup pintu. Dan penghakiman telah selesai. Hari kesempatan telah berlalu. Dan Allahlah yang menutup hari. Saudaraku, beritahukanlah kepada saya, jika seseorang berpaling dari cahaya, ke arah manakah dia berbalik?  Dia secara otomatis berbalik ke dalam kegelapan. Dia pasti akan seperti itu. Jika seseorang berpaling dari kebenaran? Apa yang dia lakukan? Dia secara otomatis berbalik ke dalam kesalahan.

           Itulah cara yang dibuat Allah di dalam dunia ini. Ketika seseorang berpaling dari seruan pendeta agar anda datang dan memberikan hati anda kepada Kristus, kepada siapakah anda berbalik? Dia berbalik ke dalam penolakan dan ketidakpercayaan. Jika seseorang berpaling dari keselamatan dan apa yang telah Allah lakukan untuk memenangkan kepada Dia sendiri dan untuk mengampuni dosa-dosanya, jika dia berpaling dari keselamatan, kepada siapakah dia berbalik? Dia berbalik kepada penghakiman dan hukuman yang tidak dapat dielakkan. Anda tidak dapat melarikan diri dari hal itu. Itu adalah sebuah bagian dari Allah. Ketika saya berpaling dari terang, saya berbalik ke dalam kegelapan. Ketika saya berpaling dari Allah, saya berbalik ke dalam hukuman. Ketika saya berpaling dari kebenaran, saya berbalik ke dalam kesalahan. saya tidak dapat melarikan diri dari hal itu. Itu adalah cara yang telah dibuat oleh Allah di alam semesta kita ini. 

            Itulah sebabnya mengapa di dalam Alkitab dari awal hingga akhir, anda akan menemukan bahwa Tuhan Allah selalu memberikan seruan dan permohonan serta undangan:

“Bertobatlah! Datanglah! Jadilah selamat!” 

 

Allah berfirman melalui Musa:

“Kiranya hati mereka selalu begitu, yakni takut akan Daku dan berpegang pada segala perintah-Ku, supaya baik keadaan mereka dan anak-anak mereka untuk selama-lamanya!” (Keluaran 5:29)

 

Itulah Allah! Tuhan berkata melalui nabiNya Yehezkiel:

“Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah Firman Tuhan Allah, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?” (Yehezkiel 33:11) 

 

   Ketika saya masih kecil, kami sering menyanyikan sebuah himne undangan di gereja desa kami yang kecil yang memiliki syair seperti ini.

 

Mengapakah kamu akan mati

Ketika darah salib

Begitu sangat dekat

Mengapakah kamu akan mati?

 

           Kita juga bisa melihat di dalam permohonan yang indah dan sangat luar biasa dari Rasul Paulus yang terdapat dalam 2 Korintus pasal 6:  

Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima. Sebab Allah berfirman: "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau." Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu. (2 Korintus 6:1-3)

 

             Lalu—pada menit ini, saat ini, Allah juga menyampaikan hal yang sama. Mengapakah seseorang menolak kasih karunia dan anugerah dan hati yang mengampuni dari Allah Bapa kita? Mengapa? Mengapa? Mengapakah kamu akan mati? Darah Kritus, pengorbanan Tuhan kita, darah kehidupan Kristus yang telah dicurahkan untuk melindungi kita dari hukuman atas dosa-dosa kita. Itulah sebabnya Dia datang ke dunia ini. Saya tidak dapat menyelamatkan diri saya. Saya adalah seorang pendosa. Saya adalah pendosa yang terhilang. Saya adalah pendosa yang berada di bawah hukuman. Saya sedang mengahadapi Hukuman Allah Yang Mahatinggi yang tidak dapat dielakkan.

            Tidak seorang pun yang dapat masuk ke dalam hadiratNya dengan kondisi yang tidak murni, penuh dosa dan terhilang. Dia datang ke dunia ini untuk meletakkan darahNya antara saya dan hukuman yang mengerikan atas dosa-dosa saya. Dia meletakkan hidupNya, kasihNya dan pengampunanNya. Dan ketika saya berdiri di depan penghakiman Allah Yang Mahatinggi, saya dilindungi oleh Dia, Pengantara saya yang agung, Pengantara saya yang agung dan Juruselamat saya yang agung. Jika Dia adalah seorang Juruselamat, Dia menyelamatkan saya dari sesuatu. Dari manakah Dia menyelamatkan saya? Dia menyelamatkan saya atas dosa-dosa saya! Saya sendiri tidak dapat menyelamatkan diri saya. Orang-orang yang mengasihi saya tidak dapat menyelamatkan saya. Gereja tidak dapat menyelamatkan saya. Jika saya tidak diselamatkan Yesus, saya terhilang. Saya bergantung atas Dia. Ayah saya dan ibu saya tidak dapat menyelamatkan saya. Mereka telah mati. Mereka membutuhkan seseorang untuk menyelamatkan mereka. Tidak seorang pun yang dapat menyelamatkan kita selain Tuhan Yesus. Itu adalah seruannya. “Marilah kepadaKu,” kataNya. “Marilah kepadaKu!”

            Tidak ada sebuah bagian patung yang paling indah di dunia ini selain dari pada patung yang dibuat oleh Thorvaldson di Kopenhagen di salah satu gereja yang berada di sana yang disebut, “The Pleading Christ,” berdiri di sana dengan tanganNya yang terulur. Saya telah berdiri di sana, dan salah satu orang yang berdiri di sana berkata: “Anda harus berlutut, anda harus berlutut jika anda ingin melihat seluruh anugerah dan keindahannya. Anda harus berlutut.”

            Lalu, bertentangan dengan apa yang pernah saya lakukan—hingga kita memulai untuk berlutut di dalam gereja ini—saya mendekati altar itu dan saya berlutut di sana dan saya melihat ke wajah permohonan Kristus. Itu adalah sebuah hadiah dengan sebuah pemandangan tentang Dia yang tidak pernah saya lihat di dunia ini. Itulah Tuhan. Permohonan Kristus. “Datanglah. Marilah. Datanglah.”

            Saya membaca sebuah kisah dalam minggu ini ketika saya sedang mempersiapkan khotbah ini. Saya membaca tentang seorang ayah di sebuah kota kecil, yang selama dua puluh tahun bertemu dengan kereta setiap hari. Saya dapat mengidentifikasi hal itu. Di desa tempat saya dibesarkan, ada sebuah kereta. Dan kami semua pergi ke tempat itu setiap hari untuk melihat kereta. Semua orang pergi ke kantor pos ketika mereka meletakkan surat dari tempat itu. Ayah ini, setiap hari melihat kereta itu selama lebih dari dua puluh tahun. Dua puluh tahun sebelumnya, anak laki-lakinya, putranya satu-satunya, telah naik kereta itu dan pergi dengan kereta itu, dan tidak pernah menyampaikan sebuah kata apa pun terhadap ayahnya kemana dia pergi dan tidak pernah menulis surat di mana dia berada. Dan selama dua puluh tahun lebih, sang ayah melihat kereta itu dan berharap mungkin anaknya pada suatu hari akan pulang. “Mungkin hari ini?” Tetapi anaknya tidak pernah datang dan ayahnya mati dalam kekecewaan. Itu adalah hal yang sangat menyedihkan. Tetapi hal itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kesedihan Allah Juruselamat kita yang telah mati bagi kita, yang telah menunggu kita, yang memohon bagi kita dan kita tidak datang. Kita tidak memberikan respon. 

            Tuhan, Tuhan, terima kasih Allah untuk hari ketika saya menelusuri lorong bangku itu, memberikan tangan saya kepada pendeta dan berkata: “Hari ini, hari ini, saya membuka hati saya bagi Yesus dan menerima Dia sebagai Juruselamat saya.” Apakah saya terhilang dalam melakukan hal itu? Itu akan adalah keputusan terbesar yang saya lakukan di dalam hidup saya. Itu akan menjadi sebuah keputusan terbesar yang perbah anda lakukan di dalam hidup anda—hal yang paling bermakna: Diberkatilah anda di dalam pekerjaan anda: diberkatilah anda di dalam keseharian anda; diberkatilah hati anda; diberkatilah anda di dalam rumah anda; diberkatilah anda di dalam keluarga anda; diberkatilah anda di dalam hidup anda; diberkatilah anda di dalam kematian. Dan betapa mulianya untuk berdiri di hadapan Allah dengan Yesus sebagai Penasehat anda dan Juruselamat anda serta Tuhan yang luar biasa. Lakukanlah! Lakukanlah! Semoga Roh Kudus memberkati ketika anda melakukan hal itu.

 

Alih bahasa: Wisma Pandia, Th.M.