Arsip Khotbah

Firman Allah yang Menghidupkan

(God's Quickening Word)

Oleh Dr. W. A. Criswell
Diterjemahkan oleh Dr. Edi Purwanto

Dalam pemeliharaan Allah, seorang pria lanjut usia mengalami keselamatan yang luar biasa dalam salah satu kebaktian di gereja kami. Sebelumnya, ia adalah seorang pendosa besar. Selama bertahun-tahun dalam hidupnya, ia tidak mengenal jalan lain selain kehidupan dunia yang menyimpang. Namun kemudian ia menikah dengan seorang wanita Kristen yang saleh. Istrinya membawanya ke jemaat kami, dan di sanalah, ketika mendengarkan Firman Allah, ia menemukan Tuhan. Perubahan dalam hidupnya terjadi seketika. Ia menjadi manusia yang baru dan berbeda. Ia senang datang ke gereja, tempat kami membaca Kitab Suci bersama-sama dan tempat saya memberitakan Alkitab. Baik di rumah maupun di kantornya, ia terus-menerus membaca Alkitab, seolah-olah ingin menebus kembali tahun-tahun hidup yang dahulu telah disia-siakannya di dunia.

Kemudian tibalah hari yang penuh dukacita itu. Ia terkena serangan jantung dan meninggal seketika. Saya datang ke upacara pemakamannya untuk mengantarkan jasadnya ke tempat peristirahatan terakhir dan untuk mengucap syukur kepada Allah atas pertobatannya kepada Kristus. Bersama ratusan sahabat lainnya, saya memandang tubuhnya yang terbaring tenang di dalam peti jenazah. Betapa terkejutnya saya ketika melihat tangan kanannya mendekap Alkitab di dadanya. Dengan penuh keheranan, saya menoleh kepada istrinya.

“Betapa tidak biasanya hal ini,” kata saya. “Ia memegang Alkitab di tangannya! Mengapa Ibu melakukan hal ini?”

“Karena satu alasan yang sangat kuat,” jawab istrinya, “ia begitu mencintai Alkitab. Kami membaca Alkitab di gereja; kami membacanya bersama-sama di rumah. Ia juga membacanya di kantornya. Karena itu, rasanya sangat tepat apabila Alkitab berada di tangannya sebagai kesaksian terakhir tentang kuasa Firman Allah yang menyelamatkan.”

Demikianlah ia dimakamkan dengan Alkitab itu di dalam peti jenazahnya. Di sanalah tubuhnya menantikan hari kebangkitan yang agung dari Tuhan, ketika Allah—yang adalah Tuhan dari Kitab itu—akan menggenapi setiap janji yang tertulis pada setiap halamannya. Dengan iman kepada Alkitab, ia dapat berkata, “Sesungguhnya kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.”

Alkitab adalah kitab yang menjadi pegangan, baik dalam menjalani kehidupan maupun dalam menghadapi kematian. Alkitab layak diterima sebagai pedoman yang tidak pernah gagal dalam menuntun kita menuju surga. Firman itu benar dan dapat dipercaya dalam segala hal. Alkitab sungguh-sungguh adalah Firman Allah.

Saat saya sedang menulis kata-kata ini, seorang tukang pos menyerahkan kepada saya sepucuk surat dari seorang pemuda. Dalam surat itu, ia mengucapkan terima kasih karena saya telah memimpin upacara pemakaman ayahnya yang sangat dikasihinya. Ia menutup surat penghargaan tersebut dengan paragraf berikut:

“Ayah sangat senang mendengarkan Anda memberitakan Alkitab. Ia tentu akan merasa terhibur seandainya mengetahui bahwa Anda hadir bersama kami dengan kata-kata yang memberikan kepastian dan kedamaian pada saat kami sangat membutuhkannya. Kiranya Allah memberkati Anda karena telah menjadi seorang gembala yang memberi makan kawanan dombanya dengan Firman Allah.”

Inilah salah satu alasan mengapa saya percaya bahwa Alkitab sungguh benar secara harfiah, yaitu karena pengaruh luar biasa yang diberikannya kepada mereka yang mendengar dan membacanya. Alkitab mengandung Injil, yang merupakan kuasa Allah yang membawa manusia kepada keselamatan.

Kuasa Firman untuk Mengubah Hidup

Alkitab bekerja dengan penuh kuasa. Kebenaran-kebenarannya mengubah hati dan kehidupan laki-laki maupun perempuan. Alkitab membawa setiap orang kepada kehidupan yang lebih baik, baik orang kecil maupun orang besar. Pengemis di jalan maupun raja di atas takhtanya, perempuan miskin yang menangis di kamar loteng maupun seorang filsuf yang duduk di kursi akademisnya, pemikir yang paling mendalam maupun orang yang tidak berpendidikan—semuanya dapat diubahkan oleh kuasa Kitab ini. Pemabuk, pencuri, dan orang yang hidup dalam hawa nafsu meninggalkan dosa-dosa mereka untuk berjalan dalam terang ketetapan Allah. Seorang ateis yang sombong pun dapat menjadi orang yang dengan rendah hati percaya kepada Kristus melalui kebenaran Alkitab.

Seorang misionaris Kristen mungkin tiba di sebuah pulau terpencil yang masyarakatnya masih hidup secara sangat tradisional. Penduduk di tempat itu tidak memiliki bahasa tertulis dan tidak mempunyai karya sastra. Mereka memandang orang asing tersebut sebagai musuh. Di tengah permusuhan yang telah mengakar, mereka sama sekali tidak memiliki keinginan untuk mengubah cara hidup mereka. Latar belakang kehidupan mereka bahkan mengenal praktik kanibalisme dan keseharian mereka jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Namun, seorang Kristen datang ke tempat itu tanpa uang dan tanpa pasukan, lalu melalui pelayanannya terjadilah perubahan yang luar biasa dalam kehidupan masyarakat tersebut.

Satu-satunya senjatanya adalah Alkitab. Satu-satunya yang dimilikinya adalah keselamatan di dalam Kristus. Ia memberitakan Injil dan mengundang mereka untuk menerimanya. Kemudian terjadilah suatu perubahan yang menakjubkan. Dalam beberapa tahun saja, penduduk pulau yang sebelumnya hidup tanpa pakaian mulai mengenakan pakaian yang mencerminkan kehidupan yang lebih tertata dan saleh. Kehidupan mereka yang sebelumnya dipenuhi tindakan amoral berubah menjadi persekutuan persaudaraan Kristen. Kekejaman yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan mereka berubah menjadi kebaikan yang mengagumkan. Semua perubahan ini terjadi bukan melalui sarana lain, melainkan melalui Firman Allah.

Mukjizat perubahan seperti ini terus terjadi di berbagai penjuru dunia. Saya sendiri memperoleh sukacita yang tak terlukiskan ketika mengunjungi pelayanan para misionaris di tengah masyarakat Auca di hutan Amazon, Amerika Selatan. Selama beberapa generasi, masyarakat yang masih menjalani pola kehidupan seperti Zaman Batu ini telah terlibat dalam pertumpahan darah. Bahkan, mereka telah membunuh lima misionaris kulit putih yang datang dengan sebuah pesawat kecil untuk membawa berita Allah kepada mereka.

Namun, sama sekali tidak menjadi tawar hati, dua orang misionaris perempuan yang penuh pengabdian mempertaruhkan nyawa mereka untuk memasuki wilayah hutan tempat orang-orang Auca yang masih hidup secara liar itu tinggal. Hanya dalam hitungan bulan, mereka berhasil membawa orang-orang tersebut kepada Kristus, dan kekejaman yang sebelumnya menjadi ciri kehidupan masyarakat Zaman Batu itu berubah menjadi kehidupan sebagai murid-murid Kristus yang rendah hati dan penuh kasih.

Perubahan seperti itu sulit saya bayangkan. Karena itulah saya pergi ke Amazon untuk menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Bagi saya, hal ini sungguh merupakan salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah modern. Pesawat terbang kita menakjubkan, radio kita juga menakjubkan, tetapi tidak ada yang lebih menakjubkan daripada perubahan hidup secara Kristen yang terlihat dalam kehidupan orang-orang Auca di Amerika Selatan tersebut.

Kisah tentang perubahan hidup yang luar biasa melalui pertobatan seperti ini dapat ditemukan di berbagai penjuru dunia. Suatu ketika, ketika saya menggembalakan sebuah gereja di daerah pedesaan, seorang diaken yang saleh—yang juga seorang petani di daerah itu—menerima sebuah Alkitab berbahasa Spanyol. Ia tidak dapat membacanya dan bertanya-tanya apa yang harus dilakukannya dengan Alkitab tersebut. Kemudian terpikir olehnya untuk memberikannya kepada sebuah keluarga berbahasa Spanyol yang tinggal beberapa mil dari rumahnya.

Ia pun pergi mengunjungi keluarga Meksiko tersebut dan menyerahkan Alkitab berbahasa Spanyol itu kepada mereka. Tidak lama kemudian, sang ayah dari keluarga tersebut datang menemui diaken yang saleh itu. Ia mengatakan bahwa dirinya dan keluarganya telah membaca Alkitab tersebut dan mereka telah menemukan Tuhan. Dalam ketaatan kepada perintah Kristus, mereka ingin dibaptis. Saya pun membaptis mereka “dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Mereka benar-benar telah mengalami perubahan hidup dan sungguh-sungguh menerima keselamatan.

Beberapa waktu kemudian, rumah keluarga itu terbakar. Ketika saya datang mengunjungi mereka dan membantu dalam keadaan mereka yang serba kekurangan, mereka menyerahkan sebuah Alkitab ke tangan saya. Sebagian Alkitab itu telah terbakar dan seluruhnya basah kuyup oleh air. Sang ayah berkata kepada saya: “Inilah satu-satunya benda yang berhasil kami selamatkan dari rumah kami yang terbakar. Firman Allah begitu berarti bagi kami sehingga inilah yang pertama-tama kami berusaha selamatkan.”

Oh, betapa menakjubkannya kuasa Kitab Allah!

Kesaksian tentang kehidupan yang diubahkan oleh kebenaran-kebenaran nyata dari Firman yang hidup telah berlangsung sepanjang berabad-abad. Mulai dari Saulus dari Tarsus, Yustinus Martir, Agustinus, John Bunyan, John Newton, John Wesley, B. H. Carroll, hingga Jerry McAuley—dan begitu banyak saksi Allah yang mulia pada masa kini—kesaksiannya selalu sama: Firman Allah memiliki kuasa untuk membawa manusia kepada pertobatan.

Seorang dokter pernah dimenangkan bagi Kristus melalui khotbah Dwight L. Moody. Seseorang kemudian bertanya kepadanya bagaimana hal itu dapat terjadi. Dokter itu menjawab: “Saya pergi mendengarkan Tuan Moody berkhotbah tanpa maksud apa pun selain mencari sesuatu yang dapat saya tertawakan. Saya tahu bahwa ia bukan seorang cendekiawan, dan saya yakin dapat menemukan banyak kelemahan dalam argumentasinya. Namun ternyata saya tidak dapat menyerangnya. Ia berdiri di sana, seolah-olah berlindung di balik Alkitab, lalu terus menembakkan satu demi satu ayat Kitab Suci kepada saya, sampai semuanya menghantam tepat ke dalam hati saya seperti peluru yang ditembakkan dari senapan, dan saya pun bertobat.” Kekuatan Moody terletak pada bagaimana ia senantiasa memiliki Alkitab di ujung lidahnya dan bagaimana Allah memberkati pemberitaannya tentang Firman yang kekal.

Demikian pula halnya dengan para pemberita Firman Allah sepanjang berabad-abad. Charles Haddon Spurgeon, pendeta London yang sangat terkenal, adalah seorang pengkhotbah Alkitab. Ia memercayai setiap bagian dari Kitab itu. Ia menyampaikan lebih dari empat ribu khotbah yang mencakup Alkitab mulai dari Kitab Kejadian sampai Wahyu. Jika khotbah-khotbah tersebut disusun menurut urutan teks Alkitab, kita hampir dapat memperoleh sebuah tafsiran Alkitab yang lengkap.

Spurgeon memercayai setiap bagian dari Alkitab. Ia berkhotbah dari Perjanjian Lama dan juga dari Perjanjian Baru. Ia berkhotbah dari Kitab Kejadian dan dari Kitab Wahyu. Ia berkhotbah dari Kitab Imamat, Efesus, Ester, dan Kisah Para Rasul. Apakah hasilnya? Sejak zaman Rasul Paulus, belum pernah begitu banyak orang berbalik kepada Tuhan melalui pelayanan seorang pemberita Firman.

Namun, apa lagi yang kemudian terjadi? Berkat-berkat lainnya pun menyusul: rumah-rumah bagi para janda, panti asuhan bagi anak-anak yang hidup dalam kekurangan, perkumpulan penyebaran literatur yang membawa Firman Allah kepada mereka yang belum memilikinya, serta para misionaris yang pergi ke seberang lautan untuk memberitakan kabar keselamatan. Dari pemberitaan Alkitab oleh satu orang ini, mengalirlah pengaruh yang luar biasa ke berbagai penjuru dunia.

Pernah ditemukan seorang pria yang mati membeku di Pegunungan Alpen. Di tangannya terdapat salah satu khotbah Spurgeon. Ketika David Livingstone meninggal, salah satu khotbah Spurgeon ditemukan tersimpan di bagian atas topinya. Pengaruh pemberitaan Alkitab oleh Spurgeon di Metropolitan Tabernacle, London, benar-benar telah menggerakkan dunia menuju Allah.

Alkitab adalah kitab yang menyatakan kepada kita kebenaran yang sanggup membawa kita ke dalam persekutuan yang hidup dengan Allah. Pengetahuan ilmiah dan kata-kata yang digunakan untuk menyampaikan pengetahuan itu tidak memiliki kuasa untuk mengubah karakter kita ataupun memberikan kepada kita pengharapan yang hidup akan surga. Namun, Firman Allah memiliki kuasa kehidupan tersebut.

Ketika Firman itu diterima dengan kerendahan hati ke dalam hati kita dan dipahami secara rohani, Firman itu sanggup menyelamatkan kita sepenuhnya. Firman Allah merupakan sarana yang dipakai Roh Kudus untuk mengerjakan kelahiran kembali di dalam jiwa kita. Firman Allah adalah pesan yang hidup dan di dalamnya terkandung kehidupan Allah sendiri (Yohanes 5:24).

Kehidupan Allah ada di dalam Firman-Nya; Firman itu hidup dan penuh kuasa (Ibrani 4:12–13). Firman Allah adalah cermin (Yakobus 1:23); melalui Firman itu kita melihat diri kita sebagaimana adanya. Firman Allah adalah benih (Lukas 8:11); di dalamnya terkandung kehidupan dan daya hidup dari Tuhan. Firman Allah adalah pedang (Efesus 6:17); Firman itu menembus hati dan menyingkapkan jiwa kita yang berdosa di hadapan Dia yang satu-satunya sanggup menyelamatkan kita dari kematian.

Alkitab adalah Firman yang memberikan kehidupan (1 Petrus 1:23); Alkitab merupakan sarana untuk menyampaikan kepada kita kehidupan yang ada di dalam Kristus Yesus, Sang Firman yang menjadi manusia. Kehidupan kekal bagi setiap jiwa dimulai ketika seseorang percaya kepada kesaksian Allah.

Daya Tarik Alkitab yang Universal

Daya tarik Alkitab bersifat universal. Sungguh, tidak ada karya sastra lain yang dapat dibandingkan dengannya. Berbagai bangsa dan suku menganggap Alkitab sebagai milik mereka sendiri. Saya pernah mendengar kisah seorang misionaris di Afrika yang bercerita bahwa seorang dari suku Hottentot datang kepadanya dan mengatakan bahwa ia merasa kasihan kepada sang misionaris karena misionaris itu tidak dapat membaca Yohanes 3:16 dalam bahasa Hottentot. Orang itu berkata bahwa baginya tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang seindah kisah tentang Kristus ketika disampaikan dalam bahasanya sendiri.

Daya tarik Alkitab sungguh menjangkau semua orang, dari segala zaman, di setiap tempat, dan dalam berbagai keadaan kehidupan. Alkitab menarik perhatian setiap kelompok usia, mulai dari anak kecil yang baru belajar berbicara sampai orang kudus lanjut usia yang rambutnya telah memutih. Anak-anak laki-laki dan perempuan membaca serta mempelajarinya di begitu banyak rumah dan Sekolah Minggu. Para ilmuwan besar seperti Newton dan Faraday, negarawan besar seperti Gladstone dan Lincoln, serta tokoh militer seperti Robert E. Lee dan Douglas MacArthur juga menjadikan Kitab ini sebagai kebanggaan dan pedoman dalam kehidupan mereka.

Seorang misionaris yang sedang melakukan perjalanan di Timur Dekat pernah bermalam di tenda seorang gembala yang telah dikunjunginya beberapa tahun sebelumnya. Sang pengembara tua itu menyambutnya dengan sebuah pertanyaan, “Apakah engkau membawa kembali buku tentang domba itu?”

Untuk sesaat, sang misionaris tidak memahami maksud pertanyaan tersebut. Kemudian ia teringat bahwa ketika terakhir kali bertemu dengan gembala tua itu, ia pernah membacakan Mazmur 23 kepadanya dalam bahasa sang gembala sendiri. Bagi penjaga kawanan domba yang sederhana dan tidak berpendidikan itu, Alkitab adalah “buku tentang domba.” Ia memahami bahasa dan pesan yang terkandung di dalamnya.

Seandainya penghiburan dari Alkitab yang penuh berkat ini diambil dari dunia, kehilangan yang kita alami tidak akan dapat dilukiskan dengan kata-kata. Ketika Baptist World Alliance mengadakan pertemuan di London, Inggris, pada tahun 1955, saya hadir untuk memimpin doa sebelum khotbah yang disampaikan oleh Dr. Joao Soren, pendeta First Baptist Church di Rio de Janeiro, Brasil.

Dalam khotbah itu, saya sangat tersentuh oleh sebuah kisah mengenai pengalaman Dr. Soren ketika melayani sebagai pendeta militer pada Perang Dunia II. Dengan kata-kata yang sulit dilupakan, Dr. Soren menggambarkan suatu pagi yang dingin pada tanggal 23 Februari 1945. Pasukan infanteri Brasil yang bertugas di Italia bersama Angkatan Darat Kelima Amerika Serikat baru saja menjalani pertempuran paling berdarah mereka di kaki Pegunungan Apennina, Italia. Pada saat itu, salju musim dingin yang sangat keras mulai turun.

Sebagai pendeta militer Divisi Brasil, ia pergi menyusuri daerah tersebut untuk mencari jenazah para prajurit yang gugur dalam pertempuran dan selama berbulan-bulan musim dingin tetap terkubur di bawah salju di wilayah tak bertuan. Pada akhirnya, ia menemukan jenazah seorang sersan muda yang sejak kecil dibesarkan dalam lingkungan Sekolah Minggu di First Baptist Church, Rio de Janeiro. Karena es dan salju mulai mencair, tubuh prajurit yang telah dinyatakan hilang dalam pertempuran dua bulan sebelumnya itu masih terawetkan dengan sempurna. Seluruh amunisinya telah habis. Tampaknya, ketika ia hendak maju dalam serangan terakhir menuju sasaran, sebuah proyektil musuh menembus dadanya.

Ia tidak langsung meninggal. Ia masih memiliki waktu untuk merogoh sakunya dan mengeluarkan Perjanjian Baru dan Kitab Mazmur yang pernah diberikan kepadanya oleh sang pendeta militer. Ia membukanya pada Mazmur Sang Gembala, yaitu Mazmur 23. Tampaknya, sementara hidupnya perlahan-lahan meninggalkannya, ia sempat membaca, “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.”

Kepalanya terkulai ke depan, dan darah yang mengalir telah merekatkan halaman-halaman kitab itu pada wajahnya yang membeku. Pada saat yang sangat menentukan itu, ketika ajal mendekat, sang prajurit berpaling kepada Firman Allah, yang penghiburannya begitu berharga dan tidak pernah mengecewakan.

Alkitab tidak pernah menjadi tua. Meskipun merupakan kitab yang berasal dari zaman yang sangat lampau, dari abad ke abad Alkitab terus memperbarui kemudaannya. Pesannya tetap relevan seperti surat kabar yang terbit esok hari. Adakah buku karya manusia yang setelah dibaca berulang kali tidak terasa membosankan atau usang? Namun Kitab Suci, meskipun terus-menerus dibaca, menurut kesaksian ribuan orang paling berbakat dan berpengetahuan di dunia, justru semakin terasa kaya, semakin agung, semakin surgawi, dan semakin tak terselami.

Kesegaran Firman Allah yang tidak pernah pudar itu sendiri merupakan suatu keajaiban. Dalam hal inilah Alkitab sangat berbeda dari semua buku lain di dunia. Kekayaan Alkitab tidak pernah habis. Isinya tidak pernah berkurang. Alkitab bagaikan sumur yang tidak pernah kering, mata air hikmat yang tidak terbatas dan terus memancar menuju kehidupan kekal.

Alkitab tidak pernah menjadi usang. Salah satu ciri buku-buku yang ditulis manusia adalah bahwa buku-buku tersebut dapat dengan cepat menjadi ketinggalan zaman. Hal ini terutama terlihat pada buku-buku pelajaran ilmu pengetahuan dan berbagai bidang yang berkaitan dengannya. Namun, Firman Allah tetap untuk selama-lamanya.

Meskipun Alkitab membicarakan persoalan-persoalan terbesar dan paling serius yang dihadapi umat manusia, penyataan yang diberikannya mengenai hal-hal tersebut senantiasa baru dan tetap relevan. Berabad-abad kemajuan dan perkembangan yang disebut manusia sebagai kemajuan peradaban tidak menambahkan apa pun kepada kebenaran Kitab Suci yang menggerakkan jiwa kita. Apa yang telah Allah nyatakan kepada kita dapat dipercaya kemarin, hari ini, dan selama-lamanya.

Alkitab bagaikan tambang emas yang di dalamnya seseorang terus menemukan urat-urat harta yang tidak pernah habis, satu demi satu. Alkitab juga seperti seorang penyelam di laut yang, setelah membawa banyak permata dari kedalaman samudra, masih menemukan kekayaan permata yang jauh lebih besar terhampar di dasar laut. Demikian pula seorang pembaca akan terus menemukan kekayaan yang tidak ada habisnya di dalam Alkitab.

Seperti minyak seorang janda dan makanan seorang janda yang tidak pernah habis atau menjadi kering, demikian pula isi Alkitab tidak pernah habis. Sebagaimana persediaan manna yang baru diberikan setiap hari kepada bangsa Israel di padang gurun, demikian pula Roh Allah senantiasa memecah-mecahkan roti kehidupan yang baru bagi mereka yang lapar dan haus akan kebenaran. Sebagaimana roti dan ikan di tangan Tuhan kita lebih dari cukup untuk memberi makan orang banyak yang kelaparan, bahkan masih menyisakan kelebihan, demikian pula madu dan susu dari Firman Allah lebih dari cukup untuk memuaskan kelaparan setiap jiwa manusia. Persediaannya tidak pernah berkurang dan senantiasa tersedia bagi setiap generasi yang baru.

Pengaruh Alkitab terhadap Kehidupan Manusia

Pengaruh Alkitab yang begitu besar menyentuh setiap aspek kehidupan manusia. Isi Kitab Suci telah menjadi sumber tema bagi para penyair, seniman, dan musisi terbesar yang pernah dihasilkan dunia. Seandainya karya-karya oratorio yang begitu agung seperti Elijah dan Messiah dihilangkan, dunia musik akan kehilangan sesuatu yang tidak mungkin tergantikan. Hapuskan lagu-lagu rohani indah yang memperoleh inspirasinya dari Kitab Suci, maka hati kita akan terasa kosong.

Jika dari karya-karya sastra Dante, Milton, Tennyson, Wordsworth, dan Carlyle dihapus setiap rujukan kepada kebenaran moral dan rohani yang diajarkan dalam Firman Allah, karya-karya itu akan kehilangan kemuliaan dan keindahannya. Jika dari dinding galeri-galeri seni terbaik kita diturunkan lukisan-lukisan luar biasa yang menggambarkan berbagai peristiwa dalam kehidupan bangsa Israel dan kehidupan Tuhan kita, kita telah menyingkirkan sebagian permata paling berharga dari mahkota kejeniusan manusia.

Alkitab telah menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam membentuk perkembangan moral umat manusia. Seandainya dari kumpulan hukum kita dihapus semua hukum yang berlandaskan Sepuluh Perintah Allah dan Khotbah di Bukit, kita akan kehilangan sesuatu yang dipandang sebagai salah satu landasan penting peradaban modern. Seandainya dari perpustakaan-perpustakaan kita disingkirkan semua buku yang ditulis dengan latar belakang prinsip dan ajaran Kitab Suci, sebagian besar kekayaan hikmat dunia akan ikut hilang. Perubahan besar dalam peradaban modern dapat ditelusuri pada pengaruh Alkitab.

Daya kreatif Alkitab merupakan salah satu keajaiban dalam sejarah. John Bunyan dipenjarakan selama dua belas tahun di penjara Bedford, dan sepanjang masa itu Alkitab menjadi sahabatnya yang setia. Di dalam penjara tersebut ia menulis sebuah karya yang abadi, dengan keindahan gaya bahasa dan kesederhanaan yang mengingatkan pada Alkitab versi King James.

Begitu luar biasanya perkembangan intelektual dan rohani seorang tukang sederhana dari Bedford yang tidak memperoleh pendidikan tinggi ini sehingga John Owen, seorang cendekiawan terkemuka, pernah memberikan kesaksian di hadapan raja:

“Yang Mulia, seandainya saya dapat menulis seperti tukang yang berada di penjara Bedford itu, dengan senang hati saya akan melepaskan seluruh pengetahuan saya.”

Pilgrim’s Progress benar-benar merupakan salah satu karya klasik terbesar dalam kesusastraan manusia. Dari manakah John Bunyan memperoleh wawasan dan kekayaan rohaninya itu? Ia memperolehnya melalui persekutuan yang indah dengan Musa dan hukum Taurat, dengan Daud dan kitab Mazmur, dengan Yesaya dan para nabi, serta dengan Yesus dan para rasul. Karena hidup dalam persekutuan dengan mereka melalui Kitab Suci, Bunyan akhirnya berbicara seperti mereka, menggunakan bahasa Alkitab.

Keindahan bahasa yang diperoleh melalui pembacaan Alkitab ini telah diteguhkan oleh pengamatan saya sendiri selama bertahun-tahun dalam pelayanan pastoral. Beberapa orang yang pernah saya kenal dan mampu berbicara dengan sangat indah justru adalah orang-orang sederhana yang tidak memperoleh pendidikan tinggi, tetapi mereka telah menyerap bahasa Alkitab ke dalam kehidupan mereka.

Kita dapat membaca Homer dan Virgil, Shakespeare dan Dante; bahkan kita dapat mendalami karya-karya sastra terbaik dari segala zaman. Namun semuanya masih jauh dibandingkan dengan kemurnian, keindahan, dan keagungan pemikiran serta ungkapan yang terdapat dalam Firman Allah.

Beberapa waktu yang lalu, seorang wartawan yang penuh inisiatif menulis surat kepada seratus orang yang menduduki berbagai jabatan dan kedudukan di Inggris. Mereka antara lain berasal dari House of Lords, anggota House of Commons, para profesional, bankir, pengusaha, dan berbagai kalangan lainnya. Dalam surat tersebut ia mengajukan pertanyaan:

“Seandainya Anda dijatuhi hukuman tiga tahun dalam sel isolasi dan hanya diperbolehkan membawa tiga buku, buku apa saja yang akan Anda pilih? Sebutkan ketiganya menurut urutan pilihan Anda.”

Betapa terkejutnya wartawan tersebut ketika mengetahui bahwa sembilan puluh delapan dari seratus orang menempatkan Alkitab sebagai pilihan pertama dari ketiga buku itu.

Hal ini menjadi semakin menarik karena cukup banyak di antara mereka bukan orang Kristen. Mereka bukan saja tidak pergi ke gereja, bahkan beberapa di antaranya pernah secara aktif menentang iman Kristen. Meskipun demikian, ketika membayangkan kemungkinan harus menjalani tiga tahun dalam kesendirian, Alkitab menjadi buku yang paling mereka inginkan sebagai teman.

Hal ini mencerminkan sikap yang telah dipikirkan dan dipertimbangkan oleh banyak tokoh terkemuka dalam peradaban modern. Di berbagai tempat, para sastrawan, negarawan terkemuka, dan ilmuwan telah memberikan kesaksian mengenai nilai dan pentingnya Firman Allah yang kudus.

Benjamin Franklin pernah berkata: “Anak muda, nasihat saya kepadamu adalah agar engkau membangun pengenalan yang baik terhadap Kitab Suci.”

Thomas Jefferson berkata: “Saya telah mengatakan dan akan selalu mengatakan bahwa pembacaan Kitab Suci dengan sungguh-sungguh akan menghasilkan warga negara yang lebih baik, ayah yang lebih baik, dan suami yang lebih baik.”

Daniel Webster pernah berkata: “Sejak saya belajar mengucapkan tulisan-tulisan suci di pangkuan ibu saya, Kitab Suci telah menjadi bahan pembelajaran saya setiap hari.”

Sungguh, Kitab Allah adalah kuasa Allah yang menghidupkan, yang bekerja untuk menyelamatkan jiwa dan membawa pembaruan bagi umat manusia.